Ditembaki IS dalam Reality Show Televisi

AFP/Sydney Morning Herald/Andhika Prasetyo/I-1
29/7/2015 00:00
Ditembaki IS dalam Reality Show Televisi
(DOK SYDNEY MORNING HERALD)
KIM Vuga, Nicole Judge, dan Andrew Jackson berlari merunduk di balik dinding-dinding kelabu.

Ketiganya, didampingi beberapa orang bersenjata, hendak mengevakuasi diri dari sebuah gedung sekolah yang sudah terbengkalai di Al-Rawiya, Suriah.

Mereka berlari sembari menghindar dari hujan tembakan kelompok ekstremis Islamic State (IS) yang jaraknya sekitar 1 kilometer saja dari posisi mereka.

"Semuanya merunduk dan tetap berada di balik tembok. Jangan sampai ketahuan!" seru salah satu pendamping.

Vuga, Judge, dan Jackson bukan anggota militer yang sedang bertugas di medan perang.

Mereka peserta program reality show bertajuk Go Back to Where You Came From yang ditayangkan stasiun televisi Australia SBS, 28-30 Juli.

Sepotong adegan yang direkam tahun lalu di Suriah tadi ditayangkan sebagai materi promosi, tapi justru menuai kritik.

Mantan perwira angkatan darat Australia sekaligus konsultan keamanan, Justin Bowden, mengkritik perlengkapan keselamatan yang dikenakan para peserta tidak cukup laik sehingga membahayakan jiwa mereka.

Dia merujuk pada rompi antipeluru yang dikenakan ketiga peserta acara.

"Jika situasi mengharuskan pemakaian rompi antipeluru, mereka harusnya juga mengenakan helm antipeluru," jelas Bowden.

Pihak SBS menyatakan para peserta reality show di Suriah itu didampingi para tentara Kurdi saat mempertahankan sebuah desa dari serangan IS.

Kru produksi juga didampingi tim dari sebuah perusahaan jasa keamanan selama berada di Suriah.

"Adegan itu, saat para peserta ditembaki IS, memang tidak direncanakan, tapi amat mungkin terjadi di sebuah medan tempur. Tim pendamping pun siap menghadapi insiden seperti itu dan bergerak cepat guna meresponsnya," jelas seorang juru bicara SBS.

Dia juga membantah kritik Bowden dengan menyatakan tim produksi mematuhi semua instruksi dari tim pendamping.

"Tim pendamping kami tidak menginstruksikan para peserta dan kru untuk mengenakan helm," lanjutnya.

Realityshow itu, menurut produser eksekutifnya, Michael Cordell, dibuat agar orang bisa melihat konflik sesungguhnya, juga membuka wawasan tentang pengungsi korban perang.

Tayangan pada musim sebelumnya mengajak peserta, sesuai dengan kesediaan mereka, ke wilayah-wilayah konflik termasuk Myanmar dan Irak.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya