PASUKAN militer Turki melancarkan serangan udara ke kelompok militan Kurdi di wilayah utara Irak sejak Minggu (26/7). Serangan itu dilakukan sebagai respons atas terjadinya serangkaian gelombang kekerasan yang dilakukan Partai Pekerja Kurdi (PKK) dan Islamic State (IS) di negara tersebut.
Dalam serangan udara terbaru, kemarin, seperti dilaporkan CNN-Turk dan NTV, pesawat jet tempur F-16 milik Turki lepas landas dari Diyarbakir dan bergerak menuju pangkalan PKK di Gunung Kandil yang merupakan perbatasan Turki dengan Irak. "Pada Minggu sekitar pukul 21.00 waktu setempat (Senin 01.00 WIB), pesawat tempur Turki mulai mengebom beberapa markas kami yang berada di dua wilayah, yaitu di Dohuk dan Arbil," ujar juru bicara PKK Bakhtiar Dogan.
Pihak PKK mengatakan serangan yang dilancarkan militer Turki menewaskan empat anggota mereka. Awalnya, pemerintah Turki hanya menargetkan serangan ke wilayah yang ditempati kelompok IS. Namun, setelah mendapati serangkaian aksi kekerasan beberapa hari terakhir oleh anggota PKK, Turki memperluas serangan ke daerah yang menjadi markas pemberontak Kurdi.
Aksi kekerasan yang terjadi di Turki diawali dengan pengeboman yang diklaim dilakukan kelompok IS pada Minggu (19/7), yang menewaskan 32 orang, kemudian disusul serangan terhadap dua anggota kepolisian Turki yang tewas ditembak di rumah mereka ketika sedang tidur pada Rabu (22/7).
Aksi penembakan tersebut belakangan ini diketahui dilakukan kelompok PKK. Insiden terbaru, sebuah bom mobil meledak saat pasukan pemerintah berkonvoi di Provinsi Diyarbakir, Sabtu (25/7). Serangan yang juga diklaim pihak PKK itu menewaskan dua tentara dan menyebabkan empat orang lainnya luka-luka.
Gelar pertemuan Beberapa hari sebelum melancarkan serangan, Turki lewat Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu telah mengirimkan undangan pertemuan ke Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk mendiskusikan kampanye perlawanan terhadap kelompok-kelompok separatis. Pertemuan itu dikabarkan akan dilakukan di Brussels, Belgia, pekan depan.
"Turki meminta pertemuan mengingat keseriusan situasi pascaserangan teroris yang keji dalam beberapa hari terakhir," jelas Sekretaris Jendral NATO Jens Stoltenberg seperti dilansir Sunday Express. Stoltenberg mengungkapkan Turki telah meminta NATO dan sekutunya agar mengambil tindakan atas apa yang sedang terjadi.
"NATO dan sekutu selalu mengikuti perkembangan yang terjadi di Turki. Kami berdiri untuk solidaritas Turki." Permintaan pertemuan itu sangat jarang dilakukan Turki. Dalam dua dasawarsa terakhir, Turki telah melakukannya tiga kali, yaitu pada 2003 saat perang Irak, pada 2012 ketika terjadi perang Suriah, dan tahun ini.