Lima Tersangka Terkait Serangan Nice

(AFP/Hym/I-3)
23/7/2016 02:20
Lima Tersangka Terkait Serangan Nice
(AFP PHOTO / FRANCOIS GUILLOT)

JAKSA penuntut mengatakan lima tersangka telah secara resmi didakwa atas kasus serangan truk kontainer di French Riveria di Kota Nice, Prancis, yang menewaskan 84 orang. "Mohamed Lahouaiej Bouhlel, yang menyerudukkan truk ke kerumunan warga yang sedang menikmati pesta kembang api perayaan Bastille Day, sudah lama merencanakan pembantaian," kata jaksa Francois Molins pada Kamis (21/7) waktu setempat. Pengungkapan datang ketika pemerintah Prancis terus dikacaukan berbagai pertanyaan tentang kemungkinan kegagalan keamanan dan telah mendorong pemerintah untuk memulai penyelidikan ke soal kelalaian potensial. Molins mengatakan foto-foto di ponsel Bouhlel, pelaku penyerangan, menunjukkan ia mungkin telah mengintai perayaan yang sama pada 14 Juli 2015. Penyelidikan juga mengungkapkan bahwa salah satu dari lima tersangka dalam tahanan, seorang warga Tunisia bernama Mohamed Oualid G, telah merekam adegan sehari setelah pembantaian itu.

Kelima orang itu dibawa ke hadapan hakim antiterorisme pada Kamis (21/7) malam dan dikenai tuntutan. Kelima orang itu ialah Ramzi A, 22, (warga Prancis berdarah Tunisia), Chokri C, 37, (Tunisia), Mohamed Oualid G, 40, (Tunisia), Artan H, 38, (Albania), dan istri Bouhlel, Enkeledja Z, yang memegang dua kewarganegaraan, Prancis dan Albania. Pihak intelijen tidak memiliki informasi terkait dengan orang-orang itu kecuali Ramzi A yang lahir di Nice. Ia memiliki catatan kriminal terkait dengan perampokan dan obat-obatan. Ramzi, Chokri, dan Oualid didakwa menjadi kaki tangan dalam aksi pembunuhan oleh kelompok teror. Ramzi dan tersangka Albania lainnya juga dikenai tuduhan melanggar undang-undang tentang senjata api dalam kaitannya dengan kejahatan teroris.

Mereka dituduh menyuplai pistol untuk Bouhlel yang digunakan dalam baku tembak dengan polisi. Lebih dari 400 penyidik yang terlibat menelaah bukti-bukti sejak serangan mengerikan, Kamis lalu itu, serangan ketiga di Prancis hanya dalam kurun 18 bulan. Pihak penegak hukum juga menganalisis catatan telepon Bouhlel yang akhirnya membawa mereka ke lima tersangka tersebut. Kelompok radikal Islamic State (IS) telah mengklaim serangan itu dan menggambarkan Bouhlel sebagai 'tentara' mereka. Namun, pihak penyidik belum menemukan bukti langsung tentang keterkaitannya dengan kelompok itu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya