Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SENIN (18/7) ketika anak-anak di Indonesia mulai kembali bersekolah, Mariam Khatib, gadis berusia 15 tahun itu hanya dapat meratapi nasibnya. Seperti halnya anak-anak di Indonesia seusianya, perempuan remaja asal Suriah itu juga ingin kembali bercengkrama dengan rekan-rekannya di sekolah. Perang yang berkecamuk di Suriah sejak 2012 silam, memaksa orangtua Mariam meninggalkan desa mereka di Provinsi Dara, Suriah. “Saya berdoa kepada Tuhan agar membukakan kesempatan bagi saya dan saudara saya untuk dapat kembali ke sekolah,’’ ujarnya kepada AFP.
Mariam dan saudaranya merupakan bagian dari sekitar 250.000 pengungsi anak Suriah yang kini bermukim di Libanon. Menurut Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia (Human Right Watch/HRW), para pengungsi di kamp pe-ngungsian itu tak memperoleh pendidikan. “Sejak krisis kemanusiaan terjadi, banyak pengungsi yang kehilangan akses pendidikan. Mereka tak pernah lagi merasakan bersekolah,” kata lembaga yang berbasis di New York, Amerika Serikat tersebut.
Masalahnya, dari ribuan bocah pengungsi yang berusia 15-18 tahun itu hanya sepertiganya yang bisa bersekolah di Libanon pada musim ajaran tahun ini (2015-2016). “Saya tidak dapat menggambarkan betapa kerasnya kehidupan kami. Saya sudah lama tak bersekolah dan sangat merindukan teman-teman dan juga guru-guru kami,’’ kata Mariam. “Kami sudah tinggal di Libanon sejak tiga setengah tahun lalu dan tak satu pun anak-anak saya bisa bersekolah di sini. Kami tak punya uang dan sejauh ini tak ada bantuan dari siapa pun. Tanpa pendidikan, kami mengkhawatirkan nasib mereka,’’ kata ayah Mariam, Imad al-Din.
Menurut catatan HRW, meski kebijakan pemerintah setempat telah mengratiskan biaya pendaftaran, kebanyakan pengungsi Suriah tetap dikenai biaya untuk menyekolahkan anak-anak mereka di Libanon. Selain itu, kenyataan lainnya di lapang-an, kebanyakan pengungsi juga dikenai tarif jika ingin memperpanjang izin tinggal. Tanpa surat-surat legal formal semacam ini, menurut HRW, para orangtua kerap kali takut untuk mendaftarkan anak mereka ke sekolah.
Abdulkarim al-Salem, salah seorang tokoh setempat di kamp pengungsi Qab Elias mengatakan pemeritah Libanon semestinya menyediakan sekolah khusus untuk anak-anak pengungsi. “Di kamp ini saja ada 180 anak yang tak bersekolah karena tak ada sekolah yang mau menampung jumlah sebanyak ini,” katanya. Menurut HRW, pemerintah Libanon seharusnya juga mengizinkan guru-guru asal Suriah diperbantukan untuk mengajar anak-anak pengungsi. Sejauh ini, pemerintah setempat memang belum mengeluarkan kebijakan tersebut.
Perang memang selamanya merugikan. Dia tak hanya menghancurkan sejumlah bangunan, tapi juga memorak-porandakan mimpi bocah-bocah seperti Mariam. Tanpa pendidikan, entah bagaimana masa depan generasi seperti mereka ini. (Adiyanto/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved