Filipina Tolak Negosiasi dengan Tiongkok

Yanurisa Ananta
20/7/2016 01:40
Filipina Tolak Negosiasi dengan Tiongkok
(AP)

FILIPINA menolak tawaran Tiongkok untuk membahas sengketa Laut China Selatan lantaran disertai persyaratan untuk mengabaikan keputusan Pengadilan Arbitrase Permanen (PCA) yang dirilis pekan lalu. Manila menegaskan tidak akan membahas negosiasi langsung dengan Beijing dalam waktu dekat, Selasa (19/7). “Mereka meminta kami untuk membuka diri bagi perundingan bilateral, namun di luar dan mengabaikan keputusan artbirase. Jadi saya memberitahu mereka bahwa hal itu tidak selaras dengan konstitusi kami dan kepentingan nasional kami,” tegas Menlu Filipina Perfecto Yasay.

Sebelumnya, pengadilan internasional yang disokong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu memutuskan, klaim Tiongkok atas wilayah sembilan garis putus-putus (nine dashline) tidak memiliki dasar hukum. Tiongkok secara terang-terangan menolak putusan tersebut. “Untuk sekarang, saya tidak yakin akan ada negosiasi yang berlangsung,” lanjut Yasay. Upaya menggelar negosiasi pun gagal meski Yasay dan Menlu Tiongkok Wang Yi sempat bertemu dalam pertemuan bilateral di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Eropa di Ulan Bator, Mongolia, pekan lalu.

“Kita biarkan tenang dulu dan lihat bagaimana kita bisa membuka jalan untuk menegosiasikan hal itu,” tambah Yasay saat diwawancarai ABS-CBN. Berdasarkan hasil putusan PCA, aktivitas Tiongkok yang mengeksploitasi sumber daya alam perairan Laut Cina Selatan yang berlokasi 340 kilometer dari pesisir Filipina merupakan pelanggaran. Pasalnya, area itu termasuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina.

Kawasan Scarborough Shoal yang berlimpah ikan dan terletak 230 kilometer dari pantai Filipina itu dianggap Tiongkok sebagai lahan pemancingan tradisional (traditional fishing ground) mereka sejak 2.000 tahun lalu. Namun, pengadilan PBB memutuskan area tersebut seharusnya terbuka untuk Filipina, Tiongkok, dan nelayan lain. Tiongkok menguasai Scarbo-rough Shoal setelah bersitegang dengan angkatan laut Filipina pada 2012. Setahun setelahnya, Manila menggugatnya ke ­pengadilan internasional. Yasay melanjutkan Tiongkok siap membahas akses Filipina ke Scarborough Shoal, tetapi memperingatkan, ‘Jika Anda (Filipina) tetap bersikeras dengan hasil putusan itu, kita akan mengalami konfrontasi’.

Prioritas Duterte
Sebagai presiden baru Fili-pina, Yasay menyebut prioritas Presiden Rodrigo Duterte saat ini ialah merebut kembali akses Scarborough Shoal untuk nelayan Filipina. Untuk itu, pekan lalu, Duterte menunjuk mantan Presiden Fidel Ramos menuju Tiongkok untuk memulai pembicaraan atas putusan PCA. “Mari selesaikan satu per satu. Mari kita atur masalah ini dengan dasar itu. Kami telah meminta Tiongkok untuk menahan diri dan tenang dalam menghadapi hal ini bahwa kami mempertahankan status quo saat ini dengan tidak mengambil langkah agresif dan tidak mengeluarkan pernyataan provokatif,” papar Yasay. Beijing bersikeras mempertahankan klaim sebagian besar wilayah Laut Cina Selatan dengan mengatakan negerinya merupakan yang pertama menemukan, memberi nama, dan mengeksploitasi perairan tersebut. Karena itu, kata Beijing, putusan pengadilan tidak bisa dijadikan dasar dialog atau negosiasi apa pun. (AFP/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya