Rakyat Prancis Desak PM Mundur

AFP/AP/Hde/I-3
19/7/2016 05:11
Rakyat Prancis Desak PM Mundur
(AP/Luca Bruno)

RAKYAT Prancis mengungkapkan kemarahan atas serangan teror beruntun yang melanda negeri itu.

Mereka mencerca dan mendesak Perdana Menteri (PM) Manuel Valls mundur saat peringatan korban yang tewas dalam serangan teror di Nice, yang membuat 84 orang meninggal dunia dan melukai 300 lainnya, Jumat (14/7) lalu.

Teriakan 'pembunuh!' dan 'mundur!' menggema dari lautan massa yang membanjiri Promenade des Anglais, jalan di tepi pantai di Nice yang menjadi lokasi serangan truk tersangka Mohamed Lahouaiej-Bouhlel.

Emosi rakyat Prancis telah bergolak sejak warga Prancis keturunan Tunisia itu menabrakkan truk berbobot 19 ton ke kerumunan massa yang menghadiri Bastille Day, peringatan hari kemerdekaan negeri itu.

Serangan kali ini terjadi delapan bulan sejak teror kelompok IS di seluruh Prancis yang menewaskan 130 orang.

Serangan kali ini juga terjadi 18 bulan setelah teror terhadap mingguan Charlie Hebdo dan sebuah supermarket Yahudi yang menewaskan 17 orang.

Teror tersebut juga memicu pertikaian di kalangan politisi.

Partai-partai oposisi menuduh pemerintahan yang dipimpin Partai Sosialis tidak bertindak dengan semestinya untuk menghentikan para pelaku teror.

Mantan presiden dan pemimpin oposisi utama, Nicolas Sarkozy, mengatakan, Minggu (17/7), semua hal yang semestinya telah dilakukan dalam 18 bulan terakhir tidak dilakukan.

"Kita tengah berperang. Saya akan menggunakan kata yang keras, kita atau mereka," ujarnya.

Para penyelidik Prancis sejauh ini belum menemukan keterkaitan antara pelaku serangan dan kelompok Islamic State (IS).

"Kelompok asal Irak itu telah mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut," kata Menteri Dalam Negeri Prancis, Bernard Cazeneuve, kepada radio Prancis, RTL Radio.

Cazeneuve menegaskan pemerintah telah berupaya maksimal untuk menghentikan serangan-serangan teror.

Dia juga menyerukan sikap bermartabat dan kebenaran politisi dari kubu oposisi yang mengkritik pemerintah dengan sengit.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya