Erdogan-Gulen, Dari Sekutu Menjadi Seteru

Indah Hoesin
18/7/2016 18:59
Erdogan-Gulen, Dari Sekutu Menjadi Seteru
(AFP)

PRESIDEN Turki, Recep Tayyip Erdogan menuduh Fethullah Gulen sebagai dalang kudeta militer di Turki, Jumat (15/7). Erdogan juga menilai tokoh islam Turki tersebut dan kelompok pendukungnya yang kerap dikenal dengan Gulenis sebagai kelompok teroris.

Fethullah Gulen adalah seorang tokoh Islam moderat gerakan Hizmet yang tersebar di beberapa negara. Sejak tahun 1999, Gulen meninggalkan Turki dan tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat (AS).

Menurut Anthony Skinner, kepala urusan politik di Verisk Maplecroft, aliansi Erdogan dan Gulen dimulai ketika menantang kontrol pembentukan sekuler di Turki. Keduanya ingin melemahkan militer yang berhasil melakukan tiga kali kudeta di negara tersebut. Kemudian keduanya berbenturan karena menginginkan kontrol kekuasaan yang lebih besar.

Hubungan Erdogan dan Gulen memburuk pada 2013 setelah Erdogan berupaya untuk berdamai dengan Kurdi dan tindakan kerasnya terhadap sistem sekolah Gulen melalui gerakan dershanes yang memberikan murid mendapat bantuan agar lulus ujian masuk universitas.

Pihak berwenang menilai sistem pendidikan tersebut akan membentuk murid loyal yang akan mengambil posisi di kepolisian dan pengadilan di Turki.

Pihak berwenang juga menuduh Gulen berada di balik demonstrasi pembangunan taman Gezi di Istanbul tahun 2013 yang akhirnya meluas menjadi demonstrasi anti pemerintah di seluruh Turki.

Hubungan keduanya semakin memburuk pada Desember 2013 setelah skandal korupsi yang mengancam Erdogan terkuak. Tiga menteri dipaksa mengundurkan diri setelah dituduh oleh Pemerintah sebagai bagian dari upaya kudeta oleh Gulen.

Pemerintah Erdogan kemudian membersihkan ribuan pejabat di lingkungan polisi dan tentara serta anggota lembaga peradilan yang dituduh memiliki hubungan dengan Gulen. Media yang diduga terkait dengan Gulen juga diperiksa termasuk koran Zaman dan kantor berita Cihan.

Di lain pihak, Gulen menolak tuduhan kudeta Erdogan dan mengatakan bahwa pengasingan diri yang dilakukannya adalah untuk menjauh dari lawan-lawan politik yang mengganggunya di Turki. Gulen juga menolak tuduhan Erdogan dan menegaskan telah mengalami banyak kudeta militer di Turki sejak tahun 60an hingga 80an dan bahkan pernah dipenjara.

"Posisi saya tentang demokrasi benar-benar jelas. Setiap usaha untuk menggulingkan negara ini (Turki) adalah pengkhianatan," ujar Gulen.

Erdogan kini mendesak AS untuk mengekstradisi Gulen atas tuduhan kudeta dan teroris yang ditolak AS karena menilai tidak melihat keterkaitan tersebut.

Gulen sendiri mengatakan tidak terlalu khawatir akan permintaan ekstradisi tersebut dan menolak kembali ke Turki dan akan menghabiskan hari-hari terakhirnya di AS. (AFP/CNN/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya