DONALD Trump berhasil mengungguli para kandidat calon presiden lainnya dari Partai Republik. Hal itu terungkap dalam jajak pendapat terbaru yang dirilis Senin (20/7).
Menurut hasil survei Washington Post dan ABC News yang dilakukan secara nasional, Trump menduduki posisi puncak dengan dukungan 24%. Ia mengalahkan para rivalnya, seperti Scott Walker yang hanya mengumpulkan 13% dan Jeb Bush 12%.
Dalam jajak pendapat yang dilakukan empat hari, Kamis (16/7) hingga Minggu (19/7), Trump, Walker, dan Bush terpilih jadi kandidat yang mengantongi dukungan paling besar.
Para kandidat lain jauh tertinggal karena hanya mendapatkan suara tidak lebih dari 10%. Dalam tiga hari pertama masa <>polling, Trump berhasil mengumpulkan suara hingga 28%. Namun, di hari terakhir, angka itu turun jadi 24%.
Hal itu tidak terlepas dari komentar pedas Trump yang lagi-lagi mengundang kontroversi. Sebelumnya, pada Sabtu (18/7), saat menghadiri rapat umum kelompok konservatif di Iowa, pria kelahiran 14 Juni 1946 itu mengejek John McCain, rivalnya dari Partai Demokrat.
Ia menyindir McCain bukanlah seorang pahlawan perang. "Ia dianggap pahlawan hanya karena ditangkap musuh. Saya sendiri lebih suka orang yang tidak tertangkap saat berperang," ejek Trump.
Trump melanjutkan ia bukan penggemar McCain. Menurutnya, yang telah dilakukan McCain ialah pekerjaan buruk.
Komentar pedas yang dilontarkan pria 69 tahun itu mengundang kecaman dari politisi dan kandidat calon presiden Partai Republik yang turut hadir di acara tersebut.
"Senator McCain ialah pahlawan AS. Dia telah berkorban lebih dari apa yang kita bisa bayangkan," kata Direktur Komunikasi untuk Komite Nasional Partai Republik Sean Spicer.
Dia menegaskan tidak ada tempat di Partai Republik untuk orang-orang yang meremehkan para pahlawan yang telah melayani negara dengan cara terhormat.
Dalam merespons hal itu, McCain mengaku tidak menganggap serius apa yang telah diungkapkan Trump tentang dirinya. Namun, dia memilih untuk membela para veteran perang yang mungkin sakit hati dengan pernyataan itu.
"Saya lebih memikirkan veteran perang AS lain. Kepada merekalah seharusnya Trump meminta maaf," ujar McCain.
Dia menambahkan sebuah kesalahan besar jika seseorang mempertanyakan catatan militer seorang prajurit hanya karena dia tertangkap.
"Begitu banyak orang telah mengabdi kepada negara ini dan mengorbankan segalanya. Jika akhirnya mereka tertangkap, hal itu seharusnya tidak menjadi bahan untuk merendahkan mereka. Itu sangat melukai para veteran," paparnya.(AFP/CNN/Pra/T-3)