AS dan Kuba kembali Buka Kedutaan Besar

MI/AFP/Pra/I-2
21/7/2015 00:00
AS dan Kuba kembali Buka Kedutaan Besar
()
SETELAH bersitegang dan menjadi musuh selama 54 tahun, akhirnya, Senin (20/7), Amerika Serikat (AS) dan Kuba secara resmi memperbarui dan menormalisasi hubungan diplomatik mereka. Dengan dimulainya lembaran baru tersebut, AS dan Kuba sepakat untuk membuka kembali kedutaan besar masing-masing negara di Havana dan Washington DC.

Bendera kebangsaan Kuba kembali berkibar di Washington DC, AS, untuk pertama kalinya sejak 1961. Momen bersejarah tersebut diiringi dengan upacara yang dipimpin Menteri Luar Negeri (Menlu) Kuba Bruno Rodriguez, Senin (20/7), pukul 10.30 waktu setempat. Dalam kunjungannya ke AS, Rodriguez juga bertemu Menlu AS John Kerry untuk melakukan pembicaraan terkait dengan kebijakan lain yang akan diambil kedua negara.

Hal tersebut lantas menjadikan Rodriguez sebagai Menlu Kuba pertama yang mengunjungi AS sejak Revolusi Kuba pada 1959. Di saat bersamaan, kedutaan besar AS di Havana, Kuba, juga kembali dioperasikan. Namun, pengibaran bendera AS baru akan dilakukan ketika Menlu AS John Kerry mengunjungi Havana bulan depan.

Kendati telah membuka tiap-tiap kedutaan mereka, kedua negara mengatakan hal itu hanyalah sebuah permulaan. Mereka menjelaskan bahwa memperbaiki hubungan buruk yang telah berlangsung selama setengah abad tidaklah mudah. "Ada beberapa masalah yang tidak bisa langsung diselesaikan begitu saja," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS John Kirby, Jumat (17/7).

Carlos Azulgaray, salah seorang diplomat senior Kuba, mengungkapkan kembali dibukanya kedutaan besar di kedua negara menunjukkan adanya kepercayaan dan respek di antara kedua negara. "Bukan berarti tidak ada konflik antara kedua pihak. Namun, hal ini menandakan adanya perubahan perspektif kedua negara dalam memandang konflik yang ada. Hal ini jelas berbeda dengan puluhan tahun lalu," jelas Alzugaray.

Pemulihan hubungan antara dua negara di Benua Amerika tersebut diawali dengan pertemuan dua kepala negara, Barack Obama dan Raul Castro pada Desember 2014. Serangkaian negosiasi pun dilakukan untuk membuka jalan hingga kesepakatan damai saat ini dapat tercapai.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya