Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SURVEI anyar oleh lembaga terkemuka Pew Research Center mengungkapkan bahwa setengah dari masyarakat di wilayah Uni Eropa (UE) tidak menyukai kedatangan pengungsi dan menghubungkan krisis migran dengan lonjakan serangan teror di ‘Benua Biru’ itu. Benua Eropa dibanjiri lebih dari 1 juta migran pada 2015 yang mayoritas berasal dari negara-negara muslim yang dirundung konflik, seperti Suriah, Irak, dan Afghanistan. Mayoritas migran meminta suaka di kawasan UE dengan Jerman dan Swedia sebagai tujuan utama mereka.
Dalam laporan yang dirilis Senin (11/7), lembaga yang berbasis di Washington, Amerika Serikat (AS), itu mengungkapkan setidaknya delapan dari 10 negara Eropa yang disurvei merisaukan ancaman teror. Di lain hal, mayoritas warga di lima negara menyebut pengungsi sebagai beban ekonomi. “Sangat penting untuk dicatat bahwa kekhawatiran tentang pengungsi tidak selalu berhubungan dengan jumlah migran yang datang ke negara itu,” kata Pew Research Center dalam laporan mereka seperti dikutip Associated Press.
Studi mencakup warga Jerman, Swedia, Belanda, Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, Yunani, Hongaria, dan Polandia. Survei dilaksanakan antara April dan Mei, atau sebelum referendum yang membawa Inggris Raya bercerai dari UE dan peristiwa serangan teroris di Bandara Ataturk, Turki, bulan lalu. Selain di Eropa, survei yang melibatkan 11.494 orang atau responden tersebut juga mencakup Amerika Serikat (AS) dengan margin of error berkisar 3,1%-4,6%. Pew memerinci 52% warga Inggris setuju dengan pernyataan bahwa migran atau pengungsi akan meningkatkan ancaman teroris di Inggris Raya, dan 46% warga Prancis, 61% warga Jerman, 71% warga Polandia, dan 76% warga Hongaria juga berpendapat sama.
“Krisis pengungsi dan ancaman terorisme sangat banyak, terkait satu sama lain di benak banyak orang Eropa,” kata survei seperti dilansir laman Deutsch Welle. Muslim dan keragaman Survei juga meminta pandangan warga Eropa tentang muslim. Dua pertiga dari warga Polandia, Yunani, Italia, dan Hongaria memberikan pandangan ‘tidak menguntungkan’, dan kurang dari sepertiga dari warga Prancis dan Jerman menyatakan kesetujuan. Inggris menjadi negara yang paling
‘ramah’ terhadap Islam, yakni hanya 28% dari warga ‘Negeri Ratu Elizabeth’ yang mengekspresikan pandangan tidak menguntungkan bagi muslim. Pew juga menemukan tren positif tentang Islam di beberapa negara.
Mengenai perilaku umum, Prancis, Jerman, Belanda, dan Spanyol memandang keragaman bukanlah plus atau minus dalam hal kualitas hidup. Pada saat yang sama, 63% orang di Yunani dan 53% di Italia percaya keragaman yang berkembang membuat negara mereka menjadi tempat yang buruk untuk hidup. Sikap itu kontras dengan di AS. Sebanyak 58% warga ‘Negeri Paman Sam’ mengatakan keragaman atau perbedaan ras, kelompok etnik, dan kebangsaan membuat AS menjadi tempat baik untuk hidup. (AP/AFP/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved