Sudan Selatan Gencatan Senjata

. (AFP/Ihs/I-2)
13/7/2016 02:50
Sudan Selatan Gencatan Senjata
(AFP PHOTO / Charles Atiki Lomodong)

PRESIDEN Sudan Selatan, Salva Kiir, telah memerintahkan gencatan sejata pada Senin (11/7) setelah terjadi pertempuran sengit yang mengakibatkan ribuan warga mengungsi dan 300 orang tewas, yang memicu kekhawatiran pecah perang sipil. Seruan gencatan senjata juga diikuti seteru Kiir, Wakil Presiden Riek Machar. Gencatan senjata itu diharapkan dapat menghentikan perang antara militer dan mantan pemberontak yang telah berlangsung tiga hari di negara yang baru
terbentuk pada 9 Juli 2011 itu.

“Presiden telah menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pelaksanaan perjanjian damai di surat dan semangat, dan memerintahkan untuk menghentikan permusuhan dengan segera,” ujar Menteri Informasi Michael Makuei dalam siaran televisi. Senada dengan permintaan tersebut, Machar juga telah meminta pasukan pendukungnya untuk menghentikan tembakan. “Saya telah memberitahukan kepada semua pasukan yang berperang dan yang mempertahankan diri mereka untuk mematuhi gencatan senjata dan tetap di posisi,” ujar Machar dalam siaran radio Eye Juba.

Menyusul diberlakukannya gencatan senjata tersebut, pada Selasa (12/7) situasi di Sudan Selatan terlihat lengang. Tidak terlihat helikopter, tank-tank, barikade, dan pasukan militer di jalanan ibu kota Sudan Selatan, Juba. Namun, gencatan senjata yang belum diketahui sampai kapan akan berlangsung itu dimanfaatkan penduduk sipil untuk meninggalkan rumah mereka. Meskipun begitu, penerbangan dari dan menuju bandar udara internasional Juba masih ditunda dan sejumlah pemerintah asing mengingatkan agar penduduk tetap berada di dalam ruangan.

Sebelumnya, pascabentrokan itu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) Ban K-moon menyerukan embargo senjata dan meminta Dewan Keamanan PBB menetapkan sanksi bagi pihak yang terlibat peperangan. Ban juga meminta Misi PBB di Sudan Selatan (UNMISS) diperkuat dengan helikopter serang. Itu karena kamp UNMISS terus digempur dengan serangan senjata ringan dan berat. (AFP/Ihs/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya