Ratusan Demonstran Protes Aksi Penembakan Polisi

Yanurisa Ananta
12/7/2016 19:29
Ratusan Demonstran Protes Aksi Penembakan Polisi
(AP)

RATUSAN pengunjuk rasa di Chicago, Amerika Serikat (AS), memprotes aksi penembakan polisi yang terjadi di beberapa negara bagian di AS, Selasa (12/7).

Beberapa orang menepuk tangan dan menabuh drum seraya berseru ‘Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian’. Mobil-mobil membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan. Sementara, kelompok pengunjuk rasa yang lebih kecil berdemonstrasi di Sacramento, California.

Kepala Kepolisian bagian Dallas David Brown yang mengaku dirinya dan keluarga menerima ancaman mati menantang para demonstran untuk berprofesi sebagai polisi untuk menegakan hukum.

"Kami merekrut. Keluar dari garis protes dan isi aplikasinya. Kami akan menempatkan Anda di lingkungan Anda dan kami akan membantu Anda menyelesaikan beberapa masalah yang anda proteskan," kata Brown seperti dilansir AFP.

Menyusul aksi protes itu, warga sipil dan polisi di Dallas berkumpul sejenak dalam keheningan di depan markas besar polisi. Petugas kepolisian berbaris dan membuat lingkaran di sekitar mobil polisi yang ditutupi balon dan bunga.

Pemerintah Kota Dallas berencana menyalakan lilin di malam hari di Dallas City Hall Plaza sebagai bentuk duka. Korban penembakan juga siap dimakamkan.

Presiden AS Barack Obama dan mantan Presiden George W Bush mengunjungi Dallas dan memberi sambutan di tugu peringatan antaragama di Dallas, Selasa (12/7). Obama diharapkan bertemu dengan keluarga polisi yang tewas atau terluka secara privat.

Pemakaman untuk Kopral Senior Lorne Ahrens dari Departemen Kepolisian Dallas dan Brent Thompson, polisi Dallas Area Rapid Transit, baru akan dimakamkan Rabu (13/7). Sementara, upacara pemakaman Sersan Michael Smith dari Departemen Kepolisian Dallas direncanakan digelar Kamis lusa. Rencana pemakaman polisi lain yang tewas belum jelas hingga saat ini.

Pelaku penembakan polisi tersebut diidentifikasi bernama Micah Johnson, 25. Johnson ialah mantan tentara AS yang dikirim ke Afghanistan. Orangtua Johnson mengatakan Johnson sempat kecewa setelah dipulangkan dari tentara AS pada 2015.

"Militer tidak seperti yang Micah bayangkan. Ia sangat kecewa, tapi itu mungkin karena pikiran ideal tentang pemerintah, pikiran militer yang ia wakili tidak sesuai dengan ekspektasinya," kata ibu Johnson, Delphine kepada jaringan TheBlaze.

Johnson mengabdi sebagai tentara AS selama enam tahun sebagai pasukan cadangan dan berada di Afghanistan dari November 2013 hingga Juli 2014. Ayah Johnson, James, mengatakan setelah keluar dari militer Johnson banyak belajar sejarah kulit hitam. Namun, kerabat Johnson menekankan bahwa Johnson tidak pernah menunjukan tanda-tanda kebencian terhadap orang kulit putih atau ras lain, terutama karena ibu tiri Johnson, Donna, berkulit putih.

"Saya tidak melihat hal itu," kata sang ayah sambil menangis. (AFP/Aya/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya