Kondisi Kota Dallas Mencekam

Haufan Hasyim Salengke
10/7/2016 23:36
Kondisi Kota Dallas Mencekam
(AP/Eric Gay)

DALLAS, kota utama di Negara Bagian Texas, Amerika Serikat (AS), kian dicekam ketakutan. Kekhawatiran akan keamanan kota dan Negeri Paman Sam secara luas merebak setelah kantor-kantor kepolisian di penjuru negara menerima ancaman dan seruan kekerasan terhadap pihak keamanan.

Instabilitas keamanan ini imbas dari pembunuhan dua pria kulit hitam, Philando Castile di Minnesota dan Alton Sterling di Louisiana, dan penembakan lima polisi pada Kamis (7/7) oleh seorang ekstremis kulit hitam, Micah Johnson, 25.

Selain menewaskan 5 polisi, penembakan juga melukai 7 polisi lainnya dan 2 warga sipil. Dalam penyelidikan, polisi menemukan bahan pembuat bom dan senjata di rumah Johnson.

Gedung Putih telah mengesampingkan adanya keterkaitan Johnson dengan organisasi teroris. Namun laman Facebook Johnson menjukkan ia terkoneksi dengan gerakan radikal komunitas kulit hitam yang masuk ke dalam daftar kelompok penyebar kebencian.

Tim SWAT dikerahkan di sekitar markas Departemen Kepolisian Dallas, Sabtu (9/7) waktu setempat, ketika petugas secara terpisah menyelidiki laporan mengenai adanya orang yang mencurigakan di sebuah garasi parkir.

"Polisi mengambil langkah-langkah keamanan 'pencegahan' di seluruh kota setelah menerima ancaman anonim terhadap penegakan hukum," kata Kantor Kepolisian Dallas dalam sebuah pernyataan seperti dilansir AP, kemarin.

Menurut polisi, penyelidikan mereka menujukkan Johnson bertekad 'memusnahkan' orang-orang kulit putih sebagai buntut dari tewasnya Castile dan Sterling. Seorang pria yang membunuh satu orang di Tennessee juga mengatakan kepada penyidik bahwa ia termotivasi oleh pembunuhan warga kulit hitam baru-baru ini oleh polisi kulit putih.

Meski beberapa ancaman dinyatakan tidak spesifik dan tidak kredibel, sejumlah ikrar kekerasan lainnya lebih menyasar target. Di Louisiana, misalnya. Seorang pria memposting video daring yang menunjukkan dia sedang berkendara di belakang mobil polisi dan mengatakan ingin membunuh seorang perwira.

Polisi mengungkapkan pelaku, Kemonte Gilmore menggenggam pistol dalam video dan berbicara terkait pembunuhan Castile dan Sterling.

Ancaman juga datang dari Wisconsin. Seorang pria memposting seruan di media sosial mengajak kaum laki-laki kulit hitam untuk menembak polisi kulit putih. Seorang wanita di Illinois mengancam dalam sebuah video daring untuk menembak dan membunuh petugas.

Dari Mississippi, Kepala Kepolisan Waveland David Allen mengatakan ancaman-ancaman itu datang via telepon dan media sosial. Menanggapi ancaman itu pihaknya juga menambah jumlah personel yang bertugas.

Polisi telah menangkap sejumlah orang sejak aksi demonstrasi pada Sabtu (9/7) malam hingga Minggu (10/7) di beberapa kota di AS.

Mawuli Davis, seorang pengacara Afro-Amerika dan aktivis di Atlanta, mengatakan apa yang terjadi saat ini merupakan kelanjutan dari peristiwa dalam beberapa tahun terakhir karena tidak ada dialog serius atas masalah ras dan percekcokan antara polisi dan orang kulit hitam.

Ketegangan antara polisi dan komunitas Afro-Amerika telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir di tengah tingginya jumlah orang laki-laki kulit hitam yang tewas di tangan penegak hukum. (AFP/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya