SUMBER militer di Yaman menyatakan pesawat-pesawat jet tempur koalisi pimpinan Arab Saudi terus mengebom titik-titik lokasi kelompok pemberontak meskipun PBB memberlakukan gencatan senjata sebagai jeda kemanusiaan agar bisa mendistribusikan bantuan-bantuan kemanusiaan kepada warga sipil.
Menurut sumber tersebut, serangan udara pasukan koalisi menargetkan posisi-posisi kelompok pemberontak Syiah Houthi yang disokong Iran beserta sekutu-sekutu mereka, yakni pasukan yang loyal pada mantan Presiden Ali Abdullah Saleh, di Aden dan Lahj.
Serangan udara menghantam sejumlah posisi pemberontak di pinggiran Kota Aden, juga sebuah konvoi di kota tetangga, Khor Maksar.
Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi itu terus menggempur pemberontak sebagai dukungan kepada Presiden Abedrabbo Mansour Hadi yang eksil ke Arab Saudi.
Padahal, PBB telah memberlakukan gencatan senjata selama enam hari yang secara teknis dimulai pada Jumat (10/7) .
Koalisi pimpinan Arab Saudi juga mengabaikan gencatan senjata dengan alasan tidak menerima permintaan dari pemerintahan Hadi untuk menghentikan serangan. Adapun pemimpin kelompok pemberontak Houthi menyatakan dia pun tidak berharap gencatan senjata itu bakal bertahan.
Pertempuran besar terjadi di Aden pada Minggu (12/7). Saat itu, kelompok Houthi menggencarkan penyergapan di beberapa wilayah yang dikuasai pejuang wilayah selatan yang merupakan loyalis Hadi.
Namun, pasukan yang pro-Hadi sukses memukul mundur kelompok Houthi di wilayah pesisir Ras Amran, Aden Barat.
Akibat pertempuran itu, 17 orang tewas, termasuk 11 anggota kelompok pemberontak.
"Pejuang selatan memang telah dibekali senjata-senjata canggih dari koalisi," kata Fadhel Hasan, juru bicara pasukan selatan yang dikenal dengan nama Resistensi Populer.
Selain itu, tiga serangan udara menggempur Pangkalan Udara Al-Anad yang dikuasai pasukan kelompok Houthi di Lahj, Aden Utara. Adapun enam anggota kelompok Houthi dilaporkan tewas akibat bom tepi jalan di Lahj.
Pekan lalu, PBB telah menyatakan bahwa Yaman berstatus darurat kemanusiaan level tiga, yakni tingkat darurat kemanusiaan tertinggi.
Lebih dari 21,1 juta warga Yaman, atau lebih dari 80% populasi Yaman, membutuhkan bantuan, termasuk 13 juta yang kekurangan makanan dan 9,4 juta orang kekurangan akses air bersih. PBB juga melaporkan konflik di Yaman yang bermula pada akhir Maret lalu telah menewaskan lebih dari 3.200 orang dengan separuhnya warga sipil.
Setelah pasukan pemberontak menduduki Sana'a tanpa perlawanan pada September, mereka sukses menguasai sejumlah wilayah dan kemudian bergerak ke Aden sehingga Hadi terpaksa melarikan diri ke Arab Saudi. (AFP/Wey/I-2)