Dikritik Kelompok HAM, Ditiru Pejabat Lokal

AFP/Ths/I-2
05/7/2016 04:11
Dikritik Kelompok HAM, Ditiru Pejabat Lokal
(AFP/TED ALJIBE)

GENDERANG perang yang dicanangkan Presiden Rodrigo Duterte terhadap para penjahat mulai menginspirasi pejabat daerah untuk melakukan tindakan serupa.

Mereka berharap langkah itu bisa menyelesaikan masalah-masalah kejahatan yang mengakar di Filipina selama ini.

Salah satu pejabat yang bakal meniru langkah Duterte untuk menembak mati para pelaku kejahatan ialah Wali Kota Cebu, Thomas Osmena.

Dalam pernyataannya, Osmena menegaskan bahkan akan memberikan dana khusus kepada polisi untuk membunuh para penjahat.

Osmena mengatakan akan membayar mereka 50 ribu peso (Rp13,9 juta) untuk pelaku kejahatan yang berhasil mereka tembak mati dan 5.000 peso (Rp1,3 juta) jika mereka bisa melukai penjahat.

"Jika Anda membunuh seorang penjahat saat tugas, Anda akan diberi penghargaan," kata Osmena.

"Itu tujuan saya, menanamkan rasa takut kepada penjahat. Jika mereka ingin melakukan kejahatan, mereka berperang dengan saya dan saya akan memastikan bahwa mereka akan menjadi korban."

Osmena menambahkan, kebijakan yang dia ambil ini bertujuan melindungi korban kejahatan.

"Saya fokus pada perlindungan korban akibat tindakan kriminal. Anda dapat saja melindungi penjahat jika Anda ingin. Namun, sekali lagi Anda akan berhadapan dengan saya," tegasnya.

Osmena menambahkan, uang penghargaan tidak berasal dari dana pemerintah.

Ia tidak menyebut lebih lanjut sumber dana yang diberikan kepada polisi.

Pekan ini, Osmena sudah memberikan hadiah sebanyak 20 ribu peso (Rp5,5 juta) untuk seorang polisi Cebu yang melukai dua perampok dalam aksi baku tembak.

Demikian ditegaskan Inspektur Oscar Monteroyo dari kantor hubungan sipil polisi Cebu.

Namun, kelompok-kelompok hak asasi manusia dan kritikus lainnya menyuarakan peringatan yang serius bahwa kebijakan itu akan menyebabkan gangguan dalam tatanan hukum yang ada.

Kepala Komisi Pemerintah tentang Hak Asasi Manusia, Chito Gascon, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kebijakan Duterte akan mendorong pihak berwenang untuk bertindak di luar hukum.

Tampaknya, hal itu mulai menunjukkan hasil.

"Wali kota dan presiden terpilih Duterte telah menggalakkan pejabat lokal lainnya untuk mengambil langkah-langkah yang luar biasa berlebihan," kata Gascon.

Selain Osmena, contoh lain ialah wali kota di dekat Manila yang menghukum 7 tersangka narkoba, termasuk 3 anak-anak.

Mereka dihukum dengan berjalan mengelilingi kota sambil membawa spanduk yang isinya, 'Saya seorang penjahat narkoba, jangan mengikuti contoh saya'.

Wakil Direktur Human Rights Watch untuk Asia, Phelim Kline, juga menyatakan keprihatinan bahwa kampanye antipenjahat Duterte bisa memicu pertumpahan darah.

"Retorika yang didengungkan Duterte telah membahayakan seluruh negeri, dan membenarkan pendekatan 'pertumpahan darah' bisa meredam kejahatan di negeri ini," katanya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya