Istanbul Kini seperti Kota Mati

Thomas Harming Suwarta/I-1
05/7/2016 00:31
Istanbul Kini seperti Kota Mati
(AP/Kayhan Ozer, Presidential Press Service, Pool)

ISTANBUL, yang di abad pertengahan dikenal dengan Konstantinopel, merupakan salah satu kota terpadat di Turki yang menjadi pusat perekonomian, budaya, dan sejarah negara itu.

Selama berabad-abad, kota itu menjadi primadona para turis.

Sejumlah bangunan bersejarah tersebar di kota itu, salah satunya Blue Mosque yang merupakan bangunan dengan artisektur Ottoman klasik.

Selain bangunan bersejarah, jalan-jalan di pusat perbelanjaan, seperti Istiklal Street, juga menjadi magnet bagi wisatawan.

Namun, wajah ramah Istanbul seketika berubah saat sebuah bom mengguncang Bandara Ataturk di kota itu, pekan lalu.

Serangan bom bunuh diri yang diduga dilakukan kelompok ekstremis itu menewaskan 40-an orang dan melukai ratusan lainnya.

Aksi kekerasan itu tidak hanya menimbulkan luka, tetapi juga mengubah wajah kota.

Istanbul kini sepi ibarat kota mati. Tak ada turis berlalu-lalang.

Begitu pun aktivitas perdagangan. Pesona kota yang dulu berhasil membujuk para pelancong dunia kini tak lagi menampakkan wajah.

"Ini bencana," kata Orhan Sonmez , seorang pemandu wisata di Hagia Sophia, sebuah museum terkenal yang tadinya bekas gereja dan masjid kuno.

"Hidup saya sepenuhnya menjadi pemandu wisata, dan kini kami semua berada di titik balik yang kita tidak tahu kapan akan berakhir. Ini tragis," imbuhnya.

Kegundahan Orhan bukan tanpa alasan.

Istanbul kini sepi dan tak ada lagi wisatawan yang menyambanginya.

Restoran-restoran yang biasanya penuh pengunjung kini sepi. Hanya terlihat deretan kursi yang tak terisi.

Sejumlah hotel yang biasanya padat kini tak lagi berpenghuni.

Bahkan, hotel-hotel bintang lima berani banting harga hanya untuk menyedot tamu.

Antrean panjang yang biasanya terlihat di depan Hagia Sophia kini tak ada lagi.

Istanbul menjadi makin senyap ketika banyak warga meninggalkan kota pada saat hari liburan Hari Raya selama sembilan hari ke depan.

"Jika terus seperti ini, banyak toko akan tutup," kata Ismael Celebi, seorang pemilik toko perhiasan kepada AFP.

"Saya berpikir pindah ke Amerika. Saya tidak bisa menghasilkan uang di sini," katanya.

Memang ada kelompok wisatawan asal Tiongkok yang mendatangi tokonya setelah kejadian bom pekan lalu.

Namun, menurutnya, uang yang mereka belanjakan tidak cukup.

"Tiongkok saja itu tidak cukup. Kita perlu orang Amerika, kita perlu orang Eropa, dan sebagainya."

Entah sampai kapan kondisi itu akan berakhir. Ismael pun hanya bisa pasrah.

Di pihak lain, Amerika Serikat, Jerman, dan beberapa negara lainnya telah memperingatkan warga mereka agar tidak melancong ke Turki.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya