KINI masyarakat Malaysia mengetahui Perdana Menteri (PM) Najib Razak memiliki dua rekening di AmIslamic Bank. Hal itu terjadi setelah satuan tugas khusus pemerintah menyelidiki dan mengonfi rmasi bahwa uang sebesar US$700 juta telah disalurkan ke dua rekening tersebut.
Namun, Jaksa Agung Malaysia Abdul Gani Patail mengatakan dua akun tersebut telah ditutup jauh sebelum isu penyaluran dana yang dituduhkan kepada orang nomor satu Malaysia itu mencuat ke permukaan. “Dua akun tersebut sudah ditutup pada 30 Agustus 2013 dan 9 Maret 2015,†ujar Abdul Gani dalam sebuah pernyataan.
Hasil penyelidikan terbaru menyebutkan bahwa uang sebesar RM2 juta atau sekitar Rp7 miliar telah disalurkan ke istri PM Najib, Rosmah Mansor. Uang tersebut diduga ditransfer ke rekening Rosmah di Affi n Bank Berhad dalam delapan deposit selama kurun 2,5 bulan awal tahun ini.
Saat menanggapi hal tersebut, kuasa hukum yang mewakili Rosmah membantah tuduhan yang diarahkan kepada kliennya. Namun, mereka mengakui bahwa akun yang dimaksud merupakan milik Rosmah Mansor. "Rekening tersebut memang milik klien kami. Rekening itu dibuka pada 1984 saat dia bekerja di sebuah perusahaan pengembangan Island & Peninsular Sdn Bhd," ujar kuasa hukum Rosmah.
"Klien saya tidak terlibat tindak pidana atau penyalahgunaan dana apa pun. Laporan tersebut palsu dan dimaksudkan untuk mengganggu atau melecehkan klien kami," lanjutnya. Dengan menyebutnya sebagai kesalahan fungsi bank, kuasa hukum Rosmah berharap Bank Negara Malaysia (BNM) dalam waktu 72 jam dapat menyelidiki masalah itu dan mengumumkan hasil temuannya.
"Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan dugaan korupsi seperti ini akan mengikis kepercayaan investor dan konsumen lembaga keuangan," lanjut pengacara Rosmah. Sementara itu, mantan menteri dari partai berkuasa, United Malays National Organisation (UMNO), Zaid Ibrahim, mendesak Najib segera diperiksa. Ia mengatakan hal itu sangat penting untuk mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap para pemimpin negara.
Ia mengatakan komisi akuntan publik (PAC) dapat menanyakan langsung kepada Najib dari mana seluruh dana tersebut berasal dan untuk tujuan apa dana tersebut disalurkan. "Mereka sebenarnya mengetahui bahwa penyalahgunaan kepercayaan seperti korupsi dan pencucian uang merupakan tindak pidana.
Namun, mereka berpura-pura tidak tahu," tulis Zaid dalam blognya. "Mereka menganggap hal itu tidak apa-apa untuk menjarah dan mencuri jika untuk kepentingan partai," lanjutnya. Hingga saat ini, Najib terus menyangkal. Melalui kuasa hukumnya, ia telah meminta klarifi kasi kepada Dow Jones dan Wall Street Journal atas laporan dana yang diterimanya.