Remaja Penuh Tekanan, Hikikomori Mengintai

Daily Mail/Deri Dahuri/I-1
11/7/2015 00:00
Remaja Penuh Tekanan, Hikikomori Mengintai
()
YUTO Onishi, 18, pernah tidak keluar dari kamar tidur di rumahnya di Tokyo, Jepang.

Bukan satu atau dua hari saja, bukan pula satu atau dua pekan, melainkan tiga tahun.

Sepanjang siang hari, Onishi tidur.

Sebaliknya, pada malam hari, dia asyik berselancar di internet dan membaca manga, komik khas Jepang. Onishi juga enggan berbicara dengan siapa-siapa.

Onishi yakin kondisinya itu disebabkan suatu kejadian.

Dia ingat, saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas, Onishi gagal terpilih sebagai ketua kelas.

Sejak itulah dia mendekam saja di kamar.

"Jika mengalaminya, Anda kehilangan realitas. Saya juga tahu itu tidak normal, tetapi saya tidak ingin mengubahnya. Saya merasa aman di sini (kamar tidur)," tutur Onishi. Kini, berkat terapi selama 6 bulan, Onishi mulai pulih.

Kondisi Onishi itu jamak dialami warga Jepang.

Namanya hikikomori yang termasuk gangguan kesehatan mental dan sosial. Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesehatan Jepang mendefinisikan hikikomori sebagai kondisi orang tidak mau berpartisipasi dalam masyarakat, bekerja ataupun mengikuti pendidikan.

Mereka tidak memiliki hubungan dekat dengan keluarga. Gejalanya berlangsung selama 6 bulan atau lebih.

Ada sekitar satu juta orang yang mengalami hikikomori di 'Negeri Sakura'.

Sebagian besar kaum muda.

Penderita hikikomori biasanya menarik diri dari pergaulan, mengisolasi diri di dalam kamar.

Pada sejumlah kasus, seperti Onishi, pengidapnya bisa mengurung diri di dalam kamar selama bertahun-tahun.

Pakar hikikomori, Dr Takahiro Kato, pernah mengidap hikikomori semasa berstatus pelajar.

Begitu pulih, dia mendalami masalah kesehatan jiwa hikikomori dengan sejumlah pakar dari Universitas Kyushu di Fukuoka, Jepang.

Menurut Kato, beberapa kasus hikikomori bahkan dialami pria berusia sekitar 50 tahun yang menarik diri dari masyarakat selama lebih dari 30 tahun.

Faktor lingkungan, dia yakin, berkontribusi pada hikikomori yang kasusnya meningkat pesat di kalangan keluarga kelas menengah.

Banyak penderita hikikomori bahkan sarjana sehingga Kato khawatir itu bisa berdampak pada perekonomian negara.

"Di Jepang, anak laki-laki mendapat tekanan besar untuk masuk universitas bagus, bekerja di perusahaan bagus. Orangtua juga sangat protektif pada anak-anak. Itu mungkin alasan banyak orang Jepang mengalami hikikomori," jelas Kato.

Terapi, terangnya, dibutuhkan penderita hikikomori beserta anggota keluarganya.

"Banyak studi kasus hanya memfokuskan pada aspek psikologis, tetapi sebenarnya ini bukan hanya gangguan jiwa," kata Kato.

Langkah pertama terapi hikikomori harus melibatkan pengembangan keterampilan komunikasi karena sebagian penderita sudah tidak pernah berbicara dengan anggota keluarga bertahun-tahun.

"Pendekatan utama ialah psikoterapi, khususnya psikoterapi berkelompok karena banyak penderita hikikomori tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain sehingga perlu banyak berkomunikasi dalam kelompok," papar Kato.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya