PRESIDEN Bolivia Evo Morales menimbulkan kehebohan, pada Kamis (9/7) waktu setempat, dengan memberikan cendera mata 'provokatif' berupa salib Yesus yang dipadukan dengan simbol komunis kepada Paus Fransiskus saat kunjungan ke Bolivia.
Cedera mata dari tokoh sosialis Bolivia itu berupa patung Yesus yang disalib pada simbol palu dan arit yang terbuat dari kayu.
Tak pelak, hadiah itu pun menuai kontroversi dan silang pendapat di kalangan masyarakat.
Kalangan pemimpin Katolik lokal mengatakan hadiah yang tidak lazim itu sesuai dengan kepribadian Presiden Morales yang aneh.
"Ini merupakan sebuah provokasi dan lelucon," ujar uskup Bolivia, Gonzalo del Castillo.
Namun, ada uskup setempat yang menanggapi nada positif.
"Kami terbiasa dengan orisinalitas kreatif dari Presiden Morales," ujar Eugenio Coter dari Gereja Misionaris Bolivia Amazon.
Pengamat keagamaan Francisco Zaratti menganggap pemberian itu merupakan sebuah anakronistik atau salah tempat.
Sesuatu yang bertentangan dengan apa yang umat jalani saat ini.
"Pada 70-an, mungkin pemberian itu dapat diterima karena mewakili komitmen yang dianut kaum sosialis. Namun, pada masa ini, hal itu menyalahi zamannya," ujar Zaratti.
Saat menanggapi kontroversi itu, Menteri Komunikasi Bolivia Marianela Paco menjelaskan bahwa hadiah itu hanya merupakan sebuah simbol untuk menghormati advokasi Paus atas nama orang miskin dan bukanlah isyarat politik.
"Arit mewakili petani dan palu mewakili tukang kayu. Mereka ialah para pekerja yang rendah hati. Mereka ialah umat Tuhan," ujar Paco. "Itulah maksud hadiah tersebut, tidak ada yang lain," lanjutnya.
Ketika menanggapi pro dan kontra terkait dengan hadiah yang diberikan Morales, pihak Vatikan mengatakan Paus tidak berkomentar apa-apa mengenai hadiah yang diberikan Morales itu.
Bentuk cendera mata serupa pertama kali dibuat oleh Luis Espinal, seniman dan penyair Bolivia yang tewas dibunuh paramiliter sayap kanan pada 1980.