AS dan Rusia Saling Menyalahkan

(AFP/Aya/I-3)
30/6/2016 00:50
AS dan Rusia Saling Menyalahkan
(AFP PHOTO / Navy Media Content Operations)

AMERIKA Serikat (AS) dan Rusia saling tuduh telah melakukan manuver maritim berbahaya setelah satu kapal perang Rusia Yaroslav Mudry dan satu kapal penghancur rudal AS USS Gravely berlayar berdekatan di Laut Mediterania, bulan ini. Angkatan laut Rusia menganggap kapal AS memasuki jalur milik Yaroslav Mudry pada 17 Juni lalu. "Angkatan laut AS telah melanggar aturan internasional berat terkait pencegahan tabrakan di laut. Dengan demikian, AS melanggar kesepakatan maritim yang ditandatangani otoritas kedua negara pada 1972," kata pihak angkatan laut Rusia.

Pihak Departemen Pertahanan AS menuduh kapal Rusia justru bermanuver mendekati USS Gravely. Salah seorang sumber anonim mengatakan kapal Rusia mulanya menunjukkan tanda-tanda bahwa kemampuan manuver dibatasi dengan menjaga jarak 3 km dari USS Gravely. "Manuver tersebut menunjukkan bahwa (Yaroslav Mudry) faktanya tidak benar-benar dibatasi dan sengaja menunjukkan sinyal internasional yang keliru," kata seorang pejabat pertahanan AS itu. Pejabat AS melaporkan kapal AS dan Rusia hanya berjarak sekitar 288 meter.

Sementara itu, Rusia menaruh jarak hanya antara 60 meter dan 70 meter. Saat menanggapi insiden tersebut, Rusia berkeras mengatakan Yaroslav Mudry berada di wilayah perairan internasional dan tidak melakukan manuver berbahaya terhadap USS Gravely. Ketegangan antara AS dan Rusia tak hanya terjadi di angkatan laut. Pentagon telah melaporkan sejumlah kasus pesawat jet Rusia mengintai pesawat AS.

Terlebih, beberapa waktu terakhir, hubungan keduanya memburuk pascabergabungnya Krimea ke wilayah Rusia. Pada April lalu, angkatan laut AS menyebarkan video pesawat Rusia berada di atas Laut Baltik dan berjarak sangat dekat dengan kapal penghancur USS Donald Cook. Pasalnya, Rusia menilai kapal AS sedang melakukan simulasi serangan ke Rusia. "Insiden ini menunjukkan bahwa pelaut AS memperbolehkan diri mereka melupakan aturan dasar keamanan maritim," jelas pihak Rusia.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya