UE Gelar Pertemuan Pertama Tanpa Inggris

Indah Hoesin
29/6/2016 16:08
UE Gelar Pertemuan Pertama Tanpa Inggris
(AFP/JOHN THYS)

KAMIS (29/6) para pemimpin negara anggota Uni Eropa (UE) bertemu untuk pertama kalinya tanpa Inggris yang telah memutuskan untuk keluar dari UE. Pertemuan ini dilakukan untuk mencegah disintegrasi UE di masa yang akan datang dan bagaimana negara anggota bisa meningkatkan persatuan setelah Inggris keluar.

Sebelumnya pada Selasa (28/6), 27 negara anggota UE telah setuju memberikan Inggris waktu sebelum memulai negosiasi Pasal 50 dari Lisbon Treaty yang merupakan prosedur pemisahan diri.

Presiden UE, Donald Tusk mengatakan bahwa dibutuhkan waktu untuk menyelesaikan sebelum langkah selanjutnya diambil. Namun Ketua Komisi UE, Jean-Claude Juncker mengatakan Inggris tidak memiliki waktu untuk berdiam diri dan harus menetapkan jadwal yang jelas untuk proses pemisahan.

Kanselir Jerman, Angela Merkel juga mengingatkan Perdana Menteri (PM) David Cameron tidak bisa memilih-milih hal yang berkaitan dengan negosiasi pemisahan. Ini merefleksikan kekhawatiran yang meluas dari keluarnya Inggris yang akan menyebabkan efek domino terhadap negara Eropa lainnya.

UE juga enggan memberikan Inggris kemudahan untuk keluar dari UE, karena tidak ingin ini akan memberikan sinyal baik bagi negara lain yang juga ingin keluar.

Sementara itu, Cameron mendesak pemimpin UE untuk mempertimbangkan perubahan aturan UE terkait kebebasan yang merupakan salah satu isu pendorong di balik kesuksesan kampanye meninggalkan UE dan munculnya euroskeptis di negara lain.

Di lain pihak, Skotlandia yang sangat mendukung Inggris tetap di UE melalui Menteri Utama, Nikola Sturgeon mengatakan bertekad untuk mempertahankan hubungan dan tempat Skotlandia di UE. Meskipun ini akan memerlukan referendum kedua untuk kemerdekaan Skotlandia dari Inggris setelah gagal pada 2014 lalu.

Bahkan Sturgeon telah menuju Belgia untuk mempertimbangkan bergabung dengan UE. Sturgeon akan bertemu dengan Presiden Parlemen UE, Martin Schulz dan kepala kelompok parlemen lainnya.

Kemungkinan referendum kedua kemerdekaan Skotlandia ini membuat masa depan Persatuan Inggris Raya dipertanyakan.

Setelah lima hari berlalu referendum Inggris yang menghasilkan 52 % suara keluar dari UE menyebabkan gejolak di pasar keuangan global. Ribuan orang yang mendukung Inggris tetap di UE turun ke jalanan London untuk memprotes hasil referendum dan menolak Inggris keluar atau 'Brexit'. (AFP/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya