ABDEL-Mon'em Moneb, sarjana strata satu bidang sejarah, kajian Islam, dan ekonomi syariah, juga strata dua bidang sejarah modern lulusan Universitas Kairo, Mesir, ditangkap kepolisian Mesir di usia 16 tahun pada 1981. Dia dipenjara selama 14 tahun karena dituduh terlibat gerakan radikal. Dia lantas akrab dengan pimpinan organisasi garis keras.
Pengalaman itulah yang menjadi bahan penulisan buku-buku tentang gerakan Islam di Mesir. Dua dari empat buku Moneb telah diterjemahkan lembaga Indonesian Institute for Society Empowerment (Insep), yakni Revisions of the Jihadist dan Islamic Movement in Egypt: A Map and Guidance.
Berikut petikan wawancara wartawan Media Indonesia, Haufan Hasyim Salengke, dengan Moneb pada acara Book Launch for Project Publishing for Counter Radicalization di Jakarta, kemarin, yang diselenggarakan Insep dan Japan-ASEAN Integration Fund.
Bagaimana perkembangan gerakan garis keras Mesir dan dunia? Seluruh gerakan Islam garis keras, baik dengan jalan kekerasan atau tidak, bersumber di Mesir lalu menyebar ke berbagai negara muslim. Misalnya kelompok Ikhwanul Muslimin. Karena itu, mengetahui peta gerakan kelompok Islam di Mesir sangat penting bagi Indonesia.
Pengaruh organisasi-organisasi Islam itu sangat besar di negara-negara muslim, salah satunya Al-Qaeda. Dari rahim Al-Qaeda itu lahirlah kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS, Islamic State).
Kini pamor Al-Qaeda menurun dengan bangkitnya ISIS... ISIS baru berkembang 5 tahun terakhir. ISIS terlihat hebat di luar, tapi sesungguhnya tidak ada apa-apanya, banyak kebohongan. Pada tahap awal mereka menyerang pemerintahan lokal. Sekarang setelah banyak orang Mesir bergabung, mereka mengubah strategi dengan menyerang musuh yang 'jauh', termasuk Amerika Serikat (AS).
Mereka berpendapat, jika berhasil menghancurkan AS, kezaliman di dunia akan hancur sebagaimana hancurnya Uni Soviet di Afghanistan. Al-Qaeda pun mengembangkan strategi dengan mendirikan cabang di berbagai negara, Yaman, Irak, Somalia, juga Timur Tengah, Afrika. Al-Qaeda hadir untuk menyerang, mengambil alih negara.
Faktor apa yang membuat ISIS menarik bagi pejuang lokal dan mancanegara? ISIS lahir dari rahim Al-Qaeda. ISIS lebih menarik, berkembang cepat, karena para mantan pejabat keamanan dan intelijen era mantan Presiden (Irak) Saddam Hussein bergabung ke ISIS. Merekalah yang mengatur strategi peperangan ISIS sehingga membuat ISIS sangat destruktif, zalim, tirani, lebih parah dari Al-Qaeda. ISIS juga buah pertikaian negara-negara Arab Sunni dengan Iran.
Bagaimana Anda melihat gerakan ISIS di masa depan? ISIS pasti akan hancur. Di Mesir ada organisasi mirip ISIS, tetapi karena tidak ada strategi, landasan, dan aturan di masyarakat, kelompok itu hilang dengan sendirinya. Karena itu, saya berpendapat ISIS pun sebentar lagi hancur dan hilang seiring dengan selesainya perang. Tentara di Irak dan Suriah harus kuat melawannya. (I-1)