Yunani Ajukan Permintaan Bailout

Yanurisa Ananta
09/7/2015 00:00
 Yunani Ajukan Permintaan Bailout
(AP/Michel Euler)
KEMARIN pagi, Yunani mengajukan permintaan bantuan dana talangan kepada Uni Eropa. Di sisi lain, Yunani masih terkejar tenggat rincian rencana reformasi ekonomi untuk menyelamatkan krisis.

Perdana Menteri Alexis Tsipras menerima pujian sekaligus cercaan saat berbicara ke anggota parlemen Eropa. Ia mengatakan Yunani sedang mencari kesepakatan yang bisa mengakhiri krisis keuangan, bukan hanya stop-gap sementara.

"Kami perlu memastikan pendanaan medium-term negara kita dengan program pengembangan dan pertumbuhan," kata Tsipras di Strasbourg, Prancis.

Hal itu diamini juru bicara pihak zona euro Michel Reijns. Yunani diminta untuk mengumpulkan rincian proposal reformasi ekonomi pada hari ini untuk kemudian diperiksa pada Minggu (12/7). Proposal itu meliputi rencana anggaran yang akan menentukan pinjaman. Hingga saat ini, Yunani baru menghasilkan kerangka proposal tersebut.

Pada Minggu (12/7), pemimpin zona euro akan mengadakan pertemuan untuk menentukan proposal itu sudah cukup baik atau belum.

Geram
Tsipras mengatakan bantuan kepada Yunani hanya akan membantu industri perbankan bukan warga. Saat menanggapi hal itu, Kepala Grup Konservatif Belgia Guy Verhofstadt mengaku geram. Ia menyebut Tsipras gagal menjabarkan rencana reformasi yang spesifik.

Bahkan, nasionalis Inggris (UK Independence Parties) Nigel Farage berkata kepada Tsipras, "Negara Anda seharusnya tidak pernah bergabung dengan (mata uang) euro."

Kekisruhan terjadi antara Yunani dan negara-negara Eropa lain. Di sisi lain, warga Yunani masih harus berjuang setelah delapan hari penarikan uang ATM dibatasi. Mereka tidak bisa menarik uang lebih dari 60 euro dalam sehari.

Dalam pidatonya di hadapan parlemen, Tsipras mengatakan permasalahan itu sudah ada sebelum ia menjabat perdana menteri. Tsipras mengatakan Yunani sudah lima tahun menjalankan 'eksperimen penghematan' yang gagal.

Sebelumnya, Uni Eropa meminta Yunani mengumpulkan rencana reformasinya pada Kamis (9/7). Presiden Dewan Komisioner Uni Eropa Jean-Claude Juncker memperingatkan detail skenario 'Grexit' telah disiapkan jika tidak ada kata sepakat.

Pihak Jerman menolak untuk memberi bantuan tanpa syarat. Dana Moneter Internasional (IMF) diminta untuk menerima periode pembayaran lebih lama dan menurunkan suku bunga acuan di utang Yunani. Pakar ekonomi mengatakan utang Yunani sangat membebani, yakni sebesar 180% dari produk domestik bruto (PDB).

Surat terbuka

Para ekonom melalui surat terbuka dalam majalah The Nation mendesak Angela Merkel untuk menyetujui pemotongan utang Yunani. Menurut mereka, pemotongan utang layak didapat Yunani karena Yunani telah mengalami tekanan kreditur untuk penghematan, tapi hasilnya hanya depresi ekonomi.

"Kanselir Merkel, pesan kami jelas, kami mendesak Anda untuk mengambil langkah kepemimpinan yang vital ini terkait dengan Yunani dan Jerman dan juga dunia. Sejarah akan mengingat Anda untuk langkah Anda minggu ini," papar para ekonom tersebut.

Surat tersebut ditandatangani oleh ekonom Prancis Thomas Piketty yang terkenal dengan karyanya, Disparitas Pendapatan, Jeffrey Sachs, ekonom pembangunan Columbia University, ekonom-politisi dari Harvard Dani Rodrik, dan Simon Wren-Lewis dari Oxford University serta mantan Sekretaris Kementerian Keuangan Jerman Heiner Flassbeck. (AP/AFP/I-2)

yanurisa@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya