Eropa Desak Yunani Ajukan Proposal Baru

Aya/Jay/AFP/BBC/X-10
08/7/2015 00:00
Eropa Desak Yunani Ajukan Proposal Baru
Angela Merkel, Kanselir Jerman(AFP/THIERRY CHARLIER)

PARA pemimpin Eropa dibuat bingung oleh hasil referendum Yunani yang menolak dana talangan internasional dari pihak kreditur, yakni International Monetary Fund (IMF) dan European Central Bank.

Meski ada opsi mendepak Yunani keluar dari zona euro, Jerman dan Prancis mendesak Perdana Menteri Alexis Tsipras untuk membuat proposal baru yang spesifik guna membicarakan dana talangan.

Para pemimpin Eropa khawatir krisis Yunani akan semakin dalam, mengingat perbankan di negara tersebut menutup operasional mereka hingga Kamis mendatang karena takut terjadi penarikan uang secara besar-besaran.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan paket jalan keluar masalah Yunani 'belum ditemukan'.

"Maka dari itu kita menunggu proposal dari Perdana Menteri Yunani, sebuah prog-ram yang memungkinkan Yunani kembali ke kesejahte-raan," kata Merkel seusai melakukan pertemuan dengan Presiden Prancis Francois Hollande di Paris untuk membahas krisis Yunani.

Komisioner Digital Eropa Gunther Oettinger pun berpendapat, tanpa adanya proposal baru, segala bentuk negosiasi baru akan sia-sia.

Atas desakan tersebut, Menteri Keuangan baru Yunani Euclid Tsakalotos menyampaikan keinginan untuk melanjutkan diskusi terkait dengan krisis yang melanda negaranya.

Di tengah perbedaan pendekatan dalam penyelesaian masalah, Jerman mengatakan pemimpin zona euro perlu melangsungkan diskusi bantuan kemanusiaan untuk Yunani.

Eropa tetap mengharapkan rencana proposal baru tersebut, termasuk permintaan pemotongan utang Yunani sebesar 30%, setelah opsi 'tidak' memenangi suara referendum.

Asian Development Bank (ADB) memprediksi krisis Yunani hanya akan berdampak sementara. Deputi Country Director ADB Indonesia Edimon Ginting memperkirakan gejolak Yunani hanya akan berpengaruh terhadap Tanah Air dalam tempo satu hingga dua bulan ke depan.

"Krisis Yunani ini kan masalah lama, jadi daya gempur shock-nya tak begitu besar lagi. Kita perlu waspada, tetapi tidak perlu dikhawa-tirkan," kata Edimon.

Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetiantono melihat krisis Yunani bisa berdampak ke Indonesia, yakni pada pelemahan nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya