MENTERI Keuangan Yunani Yanis Varoufakis mengumumkan pengunduran dirinya secara mendadak pada Senin (6/7). Keputusan itu diambil Varoufakis sehari setelah 61% warga Yunani menolak dana talangan IMF dalam refe-rendum, Minggu (5/7). Pengunduran diri Varoufakis dinilai mengejutkan karena hasil akhir referendum sesuai dengan apa yang diharapkan pemerintah Yunani pimpinan Perdana Menteri Alexis Tsipras.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Yunani itu menyatakan jika hasil referendum menyatakan Yunani menerima tawaran dana talangan dengan syarat dari kreditur, dia tidak akan menjadi menteri keuangan lagi. Namun, saat referendum berlangsung, pendirian Varoufakis berubah drastis. Dia menulis pengunduran dirinya dalam situs pribadinya.
Pria kelahiran 24 Maret 1961 itu mengaku memilih mengundurkan diri setelah menyadari bahwa Yunani benar-benar membutuhkan dana talangan. 'Tidak lama setelah hasil referendum diumumkan, saya tersadar. Pengunduran diri ini saya buat setelah disadarkan oleh beberapa peserta zona euro dan berbagai mitra Yunani', tulis Varoufakis.
Ia mengatakan pengunduran dirinya akan membantu Perdana Menteri Tsipras dalam mencapai kesepakatan baru dengan kreditur. "Untuk alasan itu saya meninggalkan posisi menteri keuangan pada hari ini," imbuhnya. Varoufakis mengingatkan bahwa hasil referendum yang menunjukkan 60% masyarakat menolak program dana talangan dan pengetat-an anggaran oleh kreditur akan dibayar mahal, seperti usaha mewujudkan hak-hak demokratis. "Masyarakat telah memberikan modal besar kepada pemerintah, dan modal itu harus segera diinvestasikan ke resolusi yang layak," ujarnya.
Euro menguat Kabar Varoufakis mengundurkan diri telah mendorong euro menguat kembali. Euro kini dijual 1,107 per dolar AS setelah sebelumnya sempat mencapai 1,097 per dolar AS. Penguatan euro terhadap dolar AS juga diikuti pengu-atan mata uang lain. Nilai tukar euro terhadap yen yang menjadi barometer sentimen investor juga telah menguat ke level 1,3776 dari awal pembukaan perdagangan hari ini.
Hasil referendum yang diumumkan pada Minggu (5/7) malam membuat Eropa menghadapi dua pilihan sulit, yakni melakukan pembicaraan terbaru dengan Yunani atau mendepak 'Negeri para Dewa' itu keluar dari zona euro. Namun, Tsipras mengatakan hasil referendum itu tidak akan merusak hubungan Yunani dengan Eropa. Dia menekankan bahwa status keanggotaan Yunani di zona euro tidak dapat diubah.
"Ini bukanlah sebuah amanat dari rakyat untuk pecah dengan Eropa. Ini adalah amanat untuk kembali bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang tidak merugikan," ujar Tsipras.
Sambut gembira Ternyata tidak hanya warga Yunani yang menyambut gembira hasil referendum. Sukacita juga dirasakan oleh beberapa kelompok yang membenci Uni Eropa. Menurut mereka, keberanian Yunani melawan penindasan Uni Eropa patut dicontoh negara lain. Salah satu yang turut bergembira ialah pemimpin Partai Front National Prancis, Marine Le Pen.
"Rakyat Yunani mengatakan 'tidak' demi kebebasan. Pemberontakan terhadap Eropa yang ingin menerapkan mata uang tunggal dengan cara apa pun, melalui penghematan yang tidak manusiawi dan kontraproduktif, merugikan Yunani," seru Le Pen. Para pembenci euro atau yang dikenal sebagai 'eurosceptic' gegap gempita, mulai Belanda hingga Finlandia. Di Spanyol, pemimpin Partai sayap kiri Podemos, Pablo Iglesias, memuji Perdana Menteri Tsipras. "Sekarang di Yunani, demokrasi telah menang."
Para euro sceptic mengatakan Uni Eropa telah membuat perekonomian 500 juta warga Eropa stagnan dan gagal melindungi pekerja dari dampak globalisasi dan imigrasi.