Situs Meiji Masuk Warisan Dunia

MI/Haufan Hasyim Salengke
07/7/2015 00:00
Situs Meiji Masuk Warisan Dunia
(AFP)
JEPANG bergembira dan merayakan keberhasilan lolosnya sejumlah situs era industri Meiji ke dalam daftar Warisan Dunia UNESCO, kemarin. Padahal sebelumnya, pemerintah Korea Selatan melontarkan kritik dan menentang dengan alasan situs-situs itu pernah dijadikan lokasi pengerahan buruh paksa asal Korea pada awal abad ke-20.

Sehari sebelumnya, pihak Komite Warisan Dunia UNESCO menambahkan sebanyak 23 situs yang dianggap mewakili revolusi industri Jepang sekitar masa pemerintahan Kaisar Meiji (1868-1912) ke dalam daftar. Situs-situs itu di antaranya tambang batu bara Hashima di Nagasaki yang dikenal sebagai 'Battleship Island' dan sebuah galangan pembuatan kapal.

Setelah pengakuan situs tambang batu bara Jepang lainnya, Miike, yang berada di wilayah barat Fukuoka, Gubernur Fukuoka Hiroshi Ogawa memberi sambutan. "Saya akan memanfaatkan dengan baik warisan berharga ini untuk merangsang ekonomi dan menyerahkannya ke generasi mendatang," ucapnya. Pengakuan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang membidangi budaya (UNESCO) atas situs-situs 'Negeri Sakura' sangat penting dan bisa membawa manfaat ekonomi. Di sam-ping menjadi magnet wisata, situs-situs yang masuk ke warisan dunia tersebut berhak mendapat bantuan keuangan untuk kepentingan pelestarian.

Namun, keberhasilan Jepang merebut hati UNESCO mendapat reaksi yang negatif dari Tiongkok dan Korea Selatan. Kedua negara industri maju yang kerap berseteru dengan Jepang itu memandang tujuh dari situs-situs tersebut berkaitan dengan sejarah kelam. Situs-situs itu menjadi pusat deportasi dan kerja paksa selama era pendudukan Jepang.

Jepang menganeksasi Semenanjung Korea pada 1910, dan menguasainya hingga mereka kalah dalam Perang Dunia II pada 1945. Rezim 'Negeri Sakura' semakin militeristik dengan menginvasi Manchuria pada 1931, kemudian mendirikan pemerintahan boneka dan menjadi basis untuk agitasi terhadap Beijing. Selain berseteru soal wilayah di Laut China Timur, ketiga negara maju tersebut kerap saling kecam terkait dengan isu-isu sensitif ten-tang sejarah, terutama masalah budak seks.

Selain situs-situs peninggalan era revolusi Kekaisar-an Meiji, Jepang, delapan situs sejarah di Korea Selatan, termasuk Benteng Gongsan-Seong dari Dinasti Baekje akan ditambahkan ke dalam daftar Warisan Dunia UNESCO.

Kerja paksa buruh
Korea Selatan memandang pengakuan UNESCO terhadap sejumlah situs era industri Jepang memperjelas bahwa di beberapa lokasi itu pernah menjadi tempat para buruh dari Semenanjung Korea dipaksa bekerja oleh rezim Tokyo. Pada pertemuan komite UNESCO di Bonn, Jerman, Minggu (5/6), perwakilan otoritas Jepang, Kuni Sato, mengakui para warga Korea saat itu diambil paksa untuk bekerja yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Mereka dipaksa untuk be-kerja di bawah kondisi yang memprihatinkan di beberapa tempat industri Jepang.

Sato mengatakan sejumlah besar orang dari Semenanjung Korea dipaksa untuk bekerja di beberapa fasilitas selama 1940-an. Ia menyatakan Tokyo siap untuk mengambil langkah-langkah guna mengingat para korban, termasuk mendirikan pusat informasi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya