Pound,Euro Terkoreksi Brexit

Yanurisa Ananta
24/6/2016 03:40
Pound,Euro Terkoreksi Brexit
(AFP / LEON NEAL)

Rabu (23/6), Inggris menggelar referendum untuk menentukan masa depan mereka dalam keanggotaan Uni Eropa (UE). Istilah Brexit (British Exit) menjadi jargon popular dalam beberapa bulan terakhir. Istilah ini sebetulnya mengacu pada pilihan seandainya Inggris keluar dari blok tersebut. Meski belum diketahui hasil referendum tersebut, faktanya pemilihan itu telah memengaruhi pergerakan mata uang, terutama pound sterling dan euro. Saat referendum berlangsung, pound sterling tercatat naik 1,17% menjadi US$1,4879 dibanding nilai penutupan hari sebelumnya US$1,1296. Sementara itu, mata uang euro menguat 0,84% menjadi US$1,1391 dibanding penutupan sebelumnya US$1,1296. "Apakah Inggris tetap menjadi anggota Uni Eropa atau meninggalkan Uni Eropa?" demikian tertulis pada kertas suara referendum Rabu (23/6).

Sebanyak 46,49 juta orang berpartisipasi dalam sejarah terbesar Inggris ini. Pos pemungutan suara dibuka pukul 07.00 pagi waktu setempat dan ditutup pukul 22.00 malam. Kubu yang berhasil mendapat setengah dari total suara dinyatakan menang. Sejumlah ekonom memperingatkan, keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa akan menyebabkan kekacauan ekonomi yang signifikan, terutama industri perdagangan di negara itu maupun negara-negara anggota Uni Eropa. Ekonomi Inggris diprediksi melambat dalam jangka pendek.

Namun, nyatanya mata uang pound sterling justru merayap naik. Penguatan mata uang rabu (23/6) merupakan peningkatan tertinggi sejak awal pekan. Kenaikan itu terjadi seiring melemahnya mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Kepala The Fed (Federal Reserve) Janet Yellen mengatakan ekonomi AS tengah menghadapi ketidakpastian. Namun, sejumlah pakar cenderung memilih menunggu hasil survei (wait and see). Pasalnya, pasar cenderung fluktuatif sembari menunggu hasil pemungutan suara Inggris. "Akan sangat sulit untuk menggerakkan pasar sampai hasil pemungutan suara dirilis. Pound sterling tentu akan berada di tahap tengah. Tapi, mata uang Eropa lainnya serta dolar/yen juga menunggu karena kedua mata uang itu akan mempengaruhi risiko sentimen," papar Shin Kadota, kepala strategis Barclays di Tokyo, Jepang.

Ajang taruhan
Proses referendum yang penuh spekulasi ini dimanfaatkan para pelaku taruhan. Sebagian besar orang meyakini Inggris akan tetap di UE. Namun, jajak pendapat pemungutan suara memusingkan para petaruh. Rumah judi Betfair yang berani bertaruh hingga 60 juta euro (US$68 juta) melewati angka 40 juta euro saat pemilihan umum Presiden AS Barack Obama tahun 2012, kini menawarkan kemungkinan Inggris tetap bergabung dengan UE sebesar 74%. "Saya akan sangat terkejut jika pemungutan suara menyatakan Inggris keluar dari EU," kata Barry Orr, juru bicara Betfair. Adapun, William Hill berani bertaruh senilai 26 juta euro (US$29 juta) dan menghitung kemungkinan Inggris tetap bergabung dengan EU sebesar 76%.
(AFP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya