Tunisia Ditetapkan dalam Status Darurat

Andhika Prasetyo
06/7/2015 00:00
Tunisia Ditetapkan dalam Status Darurat
(AFP/FETHI BELAID)
PRESIDEN Tunisia Beji Caid Essebsi, Sabtu (4/7), mendeklarasikan status darurat negara setelah terjadinya penembakan massal di Imperial Marhaba Hotel, sebuah hotel wisata di wilayah El Kantaoui, Tunisia, pekan lalu.

"Langkah ini diterapkan karena adanya situasi mengerikan yang baru saja dilalui negara ini. Serangan teroris yang baru saja terjadi, adanya ancaman yang nyata. Itu membuat negara ini menghadapi semacam peperangan tersendiri," ucap Essebsi.

Dalam pidato yang disiarkan di televisi nasional, Essebsi mengatakan status darurat itu berlaku hingga 30 hari ke depan. Status tersebut diterapkan setelah berkonsultasi dengan anggota parlemen dan perdana menteri.

Namun, pengamat politik Selim Kharrat mempertanyakan status darurat negara yang dideklarasikan oleh Essebsi.

Ia menganggap waktu yang diambil, delapan hari setelah terjadinya serangan, merupakan hal yang aneh karena terlalu lambat.

Kharrat juga memperingatkan bahwa status darurat semacam itu bisa menjadi senjata yang ampuh untuk terjadinya penindasan.

Pasalnya, dengan penerapan status darurat itu, anggota kepolisian dan tentara akan memiliki kekuasaan khusus.

Sebelumnya, status yang sama juga pernah dilakukan pada 2011 dan bertahan selama tiga tahun ketika terjadi revolusi pascapenggulingan mantan Presiden Zine El Abidine Ben Ali.

Sejumlah pejabat dipecat
Beberapa pejabat Tunisia, termasuk Gubernur Sousse, telah diberhentikan setelah terjadinya insiden berdarah tersebut.

Mereka diberhentikan karena dianggap gagal dalam menjalani pemerintahan. "Selain adanya kegagalan dalam sistem keamanan, kegagalan sistem politik juga berperan dalam tragedi memilukan tersebut," ujar penasihat Perdana Menteri Tunisia Dhafer Neji.

Di Inggris, pada Minggu (5/7), Perdana Menteri David Cameron mengatakan akan membuat sebuah monumen untuk mengenang warga negara Inggris yang tewas dalam aksi penembakan di Tunisia.

"Mereka yang kehilangan nyawanya di Tunisia ialah orangorang yang tidak bersalah," ujar Cameron.

"Adalah hal yang memang seharusnya dilakukan untuk mengenang mereka yang telah tiada karena aksi kejahatan terorisme."

Dalam serangan tersebut, tercatat 30 warga negara Inggris tewas dan menjadi yang terbanyak jika dibandingkan dengan korban dari negaranegara lain.

Menteri Dalam Negeri Inggris Theresa May yang mengunjungi lokasi kejadian pun bertekad untuk mengalahkan siapa pun yang berusaha meruntuhkan kebebasan dan demokrasi.

Ia juga bersumpah bahwa teroris tidak akan pernah bisa menang.

Tragedi penembakan yang terjadi Jumat (3/7) merupakan yang terparah kedua di Tunisia dalam kurun tiga bulan terakhir.

Sebelumnya, serangan serupa juga terjadi di Museum Nasional Bardo, Tunis, 18 Maret silam. Tragedi penembakan tersebut menewaskan 21 turis dan seorang polisi. (AFP/I2)

andhika@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya