Anggota Parlemen Dibunuh

Yanurisa Ananta
18/6/2016 01:30
Anggota Parlemen Dibunuh
(AFP/DANIEL LEAL-OLIVAS)

SEORANG anggota parlemen di West Yorkshire, Inggris, Helen Joanne atau biasa disapa Jo Cox tewas dalam sebuah serangan tunggal di jalanan tak jauh dari sebuah perpustakaan di Birstall, Inggris Utara, Kamis (16/6). Cox yang aktif mengampanyekan agar Inggris tetap menjadi anggota Uni Eropa (UE) tewas terbunuh setelah dipukul dan ditendang sebelum akhirnya ditembak tiga kali oleh pelaku. Pelaku penyerangan mulai mendekati Cox saat anggota parlemen berusia 41 tahun itu berjalan setelah menghadiri pertemuan rutin dengan konstituennya. Polisi mengaku tidak ingin berspekulasi soal motif pelaku, tetapi seorang saksi mata yang juga pemilik kafe tak jauh dari lokasi kejadian mengatakan pelaku sempat berseru, "Utamakan Inggris!" beberapa kali.

"Ia ditembak tiga kali. Kali pertama ia jatuh ke tanah dan ditembak lagi. Ketiga kalinya ia ditembak kira-kira di sekitar kepala. Saat itu, pelaku juga menikamnya dengan pisau. Ia berteriak 'Utamakan Inggris!' sebanyak dua sampai tiga kali," kata pemilik kafe, Rothwell. Sebelum bergabung dengan parlemen tahun lalu, Cox sempat bekerja untuk Oxfam, lembaga swadaya masyarakat yang berbasis di Inggris. Ibu dua anak itu menikah dengan Brendan Cox yang pernah menjadi penasihat mantan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown.

Cox juga kerap bekerja untuk istri Brown dalam kampanye menghindari kematian ibu dan bayi saat kehamilan. Sejak memasuki parlemen, dia aktif mengampanyekan isu imigran Suriah, termasuk mendesak Inggris untuk mengimplementasi zona larangan terbang (no-fly zone). Polisi kini telah menangkap pelaku yang diidentifikasi bernama Thomas Mair. Pria 52 tahun itu dikenal sebagai pria pendiam yang bekerja sebagai tukang kebun bagi warga lokal.

Kepada polisi, Mair mengaku kerap merasa terisolasi secara sosial dan tidak terhubung dengan masyarakat akibat penyakit mental yang dideritanya dalam jangka waktu panjang. Sejumlah detektif mengajukan pertanyaan terkait kampanye politik yang dilakukan Jo Cox. Sejauh ini, tidak ada bukti yang terkonfirmasi bahwa Mair mendukung politik sayap kanan. Orang terdekat Mair mengatakan dia tidak pernah tampak tertarik dengan politik atau referendum UE.

Namun, nama dan alamat Mair sempat tercantum sebagai pelanggan sebuah majalah Afrika Selatan yang prokulit putih dan anti-Kong-res Nasional Afrika. Nama Mair juga sempat terpublikasi media sebagai mantan penderita gangguan mental yang bekerja sebagai sukarelawan untuk penyembuhan.

Kampanye ditunda
Akibat pembunuhan Jo Cox, kampanye pemungutan suara untuk Inggris tetap berada di UE atau meninggalkan UE ditunda. Perdana Menteri David Cameron pun membatalkan rencana pidato dan kunjungannya ke Gibraltar, Spanyol. "Ini sungguh berita yang tragis dan sangat menakutkan. Kita telah kehilangan seorang bintang (politik). Ia (Jo Cox) merupakan anggota parlemen yang hebat dalam berkampanye dengan kemurahan hati yang besar."

Bunga-bunga dan ratusan pesan terakhir untuk Jo Cox memenuhi tugu Joseph Priestly di Birstall tak jauh dari tempat kejadian. Brendan Cox, suami Jo Cox, mendesak masyarakat untuk melawan penebaran kebencian yang menewaskan sang istri. "(Ini) adalah awal yang baru dalam hidup kami. Lebih sulit, lebih menyakitkan, dan kurang menyenangkan. Saya dan teman-teman Jo serta keluarga akan bekerja setiap saat untuk mencintai dan memelihara anak-anak kami dan melawan kebencian yang menewaskan Jo," kata Brendan. (AP/Daily Mail/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya