Lima korban tewas dilaporkan berasal dari kelompok Houthi. Tujuh sisanya ialah pasukan pemerintah. Sebelumnya, Rabu (1/7), 31 warga sipil, termasuk 3 wanita dan 2 anak, dilaporkan tewas dan 100 lainnya luka-luka setelah sebuah roket menghantam perumahan di wilayah Aden, Yaman.
Menurut Ali al-Ahmadi, juru bicara loyalis presiden Yaman, para pemberontak dan sekutunya menggempur Distrik Al-Mansura dengan mengirim 15 roket dari Dar Saad. "Serangan roket dimulai sebelum fajar saat jalanan mulai ramai di tengah pelaksanaan ibadah puasa di bulan suci Ramadan," ucap Al-Ahmadi. Serangkaian roket lanjutan juga menghantam pelayat yang menguburkan korban serangan sebelumnya.
Tidak tinggal diam, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi juga melancarkan serangan udara ke Provinsi Lahj, tempat banyak pasukan pemberontak berada. Serangan sepanjang malam itu menewaskan 13 orang dari pihak Houthi. Selain menggencarkan penyerangan, di Kota Taez pasukan propemerintah disebar untuk memburu 1.200 narapidana yang diduga telah dibebaskan pemberontak.
Menurut sumber militer setempat, sekitar lima hingga delapan narapidana yang berhasil kabur merupakan anggota Al-Qaeda. Sementara itu, Perdana Menteri Yaman Khaled Bahah yang sedang mengasingkan diri di Arab Saudi menuduh pemberontak melakukan kejahatan perang karena menyerang daerah permukiman warga, mengepung kota, dan secara paksa mencegat serta mengusir kapal yang membawa bantuan kemanusiaan.
Dalam menanggapi perang yang tidak kunjung henti di wilayah tersebut, PBB pada Rabu (1/7) menyatakan Yaman berada pada kondisi darurat keamanan level tiga, yang merupakan level tertinggi. "Semua pihak setuju untuk menyatakan bahwa saat ini merupakan keadaan darurat level tiga," ujar juru bicara PBB Farhan Haq. Ia menambahkan situasi darurat itu berlaku selama enam bulan.
Berdasarkan rencana darurat yang telah dibicarakan, PBB akan mencoba untuk membantu 11,7 juta orang yang berada di medan perang tersebut. "Sistem kesehatan berada pada fase darurat dengan ditutupnya sekitar 160 fasilitas kesehatan karena kondisi yang tidak aman. Ketersediaan pasokan makanan dan bahan bakar juga memprihatinkan," ujar Haq.
Dalam pertemuan yang dihelat selama dua hari tersebut, utusan khusus PBB Ismail Ould Cheikh Ahmed mengatakan mereka masih optimistis bahwa kesepakatan untuk damai akan tercapai.