Rusia Sepakat Gencatan 48 Jam

(AFP/Hym/I-3)
17/6/2016 01:30
Rusia Sepakat Gencatan 48 Jam
(AP/Civil Defense Directorate in Liberated Province of Aleppo)

BEBERAPA menit terakhir jelang larut malam pada Rabu (15/6), sekutu Suriah, Rusia, akhirnya menyepakati pemberlakuan 48 jam gencatan senjata untuk Kota Aleppo, Suriah. "Mengenai inisiatif Rusia, 'regime of silence' telah diberlakukan di Aleppo selama 48 jam dari pukul 00.01, 16 Juni, dengan tujuan menurunkan tingkat kekerasan bersenjata dan menstabilkan situasi," ujar Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah pernyataan. Pengumuman itu disampaikan Moskow hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat (AS) memperingatkan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan sekutunya, Rusia, bahwa mereka harus menghormati gencatan senjata nasional yang disepakati pada Februari.

"Rusia perlu memahami bahwa kesabaran kita bukannya tidak tak terbatas, sebenarnya ini sangat terbatas, termasuk apakah Al-Assad harus bertanggung jawab atau tidak," kata Menteri Luar Negeri AS John Kerry. "Kami juga siap untuk meminta pertanggungjawaban anggota oposisi," ujar Kerry setelah menggelar pertemuan di Norwegia dengan mitranya dari Iran, Mohammad Javad Zarif. Aleppo, sebuah provinsi penting di wilayah utara Suriah, telah hancur di berbagai lini akibat perang dahsyat yang telah menewaskan lebih dari 280 ribu orang. Puluhan pejuang tewas dalam pertempuran terbaru antara pasukan rezim, pemberontak, dan kelompok bersenjata lainnya, termasuk Islamic State (IS) dan Al-Nusra Front, di selatan Aleppo pada Rabu (15/6).

Dengan didukung serangan udara jet tempur Rusia dan pemerintah, para pejuang prorezim terkunci dalam pertempuran dengan kelompok pemberontak dan afiliasi Al-Qaeda, Front Al-Nusra, di desa yang terletak di daerah perbukitan antarrute strategis. Pengumuman gencatan senjata dua hari oleh Rusia itu tidak merinci dengan siapa Moskow telah membahasnya. Di sisi lain, Rusia menuduh Al-Nusra menyerang berbagai wilayah Aleppo dengan peluncur roket. Kelompok militan Sunni itu juga meningkatkan serangan tank ke barat daya Aleppo.

Perang sipil Suriah belum menunjukkan akan berakhir. Pembicaraan damai yang difasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah terhenti sejak April. Kesepakatan gencatan senjata yang rapuh antara pemerintah dan kelompok pemberontak telah runtuh. "Sangat jelas bahwa penghentian permusuhan (peperangan) telah compang-camping dan berisiko dan sangat penting untuk segera meletakkan gencatan senjata pada tempatnya," kata Kerry.

Dalam beberapa hari terakhir, Aleppo menjadi terget serangan jet tempur pemerintah Suriah dan Rusia. Pada Selasa (14/6), sebuah rumah sakit yang didukung organisasi kemanusiaan dari Prancis, Medecins du Monde dihantam roket dari jet tempur. Selama Juni, tiga rumah sakit juga menjadi sasaran serangan udara rezim Bashar al-Assad. Sebanyak 10 orang dilaporkan tewas. Serangan itu dikecam internasional.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya