Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA orangtua di Amerika Serikat mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk membayar pendidikan anak mereka di universitas. Adapun orangtua di Uni Emirat Arab (UEA), Hong Kong, dan Singapura bahkan menanggung biaya yang lebih tinggi.
Orangtua di UEA mengatakan telah mengeluarkan US$18 ribu (sekitar Rp241,3 juta) per tahun–-lebih tinggi daripada orangtua di negara mana pun--untuk membayar pendidikan tinggi anak mereka.
Berdasarkan survei dari HSBC, orangtua di Amerika membayar US$ 14 ribu (sekitar Rp187,7 juta) per tahun. Tetap saja, angka ini dua kali lipat dari pengeluaran rata-rata dunia.
Besarnya biaya yang dikeluarkan para orangtua di UEA mencerminkan mayoritas dari orangtua di sana mengirim anak-anak mereka untuk mengenyam pendidikan di luar negeri. Hal ini disampaikan Kepala Penjualan dan Distribusi Global HSBC Michael Schweitzer.
Sementara itu, masyarakat di Hong Kong dan Singapura memiliki kebiasaan untuk mempersiapkan pendidikan yang tinggi untuk anak. "Ini merupakan hal yang sangat terhormat," kata Schweitzer seperti dikutip CNN, Senin (13/6).
Laporan yang diterbitkan HSBC memperlihatkan hanya sedikit jumlah pelajar atau mahasiswa di Hong Kong dan Singapura yang mengeluarkan uang sendiri untuk pendidikan mereka.
Lain halnya dengan AS. Sekitar 37% dari mahasiswa di sana ikut membayar biaya pendidikan mereka. Di Kanada, jumlahnya mencapai 39%.
Meski demikian, orangtua di AS juga merasa penting untuk mempersiapkan pendidikan yang baik untuk anak-anak mereka. Tiga dari lima orang mengklaim rela berutang demi pendidikan anak. Bahkan, banyak orangtua yang merelakan uang pensiun mereka atau tidak lagi membayar uang sewa tempat tinggal, agar anak mereka bisa mendapat pendidikan yang baik.
Agar tidak terjebak dalam keadaan seperti itu, Schweitzer menyarankan untuk mulai menabung demi pendidikan anak sejak saat ini. "Kalau ditunda, biaya akan makin menumpuk," katanya.
Sekitar 70% pelajar maupun mahasiswa dibebani utang saat bersekolah ataupun kuliah. Bahkan, mereka masih menghadapi kesulitan keuangan setelah melakukan pinjaman dengan bunga yang rendah. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved