Menkeu Inggris Ingatkan Bahaya Brexit

(AFP/Ihs/I-3)
16/6/2016 01:30
Menkeu Inggris Ingatkan Bahaya Brexit
(AFP PHOTO / JON SUPER)

MENTERI Keuangan (Menkeu) Inggris George Osborne mengatakan referendum penentuan status Inggris dengan Uni Eropa (UE) atau keluar pada 24 Juni mendatang akan memicu kenaikan pajak dan pemotongan anggaran belanja terutama setelah pasar saham jatuh. Osborne yang menolak Inggris keluar dari UE atau 'Brexit' mengatakan pemerintah akan mengumumkan pemotongan dana untuk sekolah, rumah sakit, dan angkatan bersenjata jika Brexit terwujud. "Keluar dari UE akan menjatuhkan investasi, menyakiti keluarga, dan merugikan perekonomian Inggris," ujar Osborne yang seakan tengah berkampanye jelang pelaksaan referendum pekan depan. "Saya akan memiliki tanggung jawab untuk memulihkan stabilitas keuangan publik dan itu berarti anggaran darurat dengan kita harus menaikkan pajak dan memotong anggaran," tambahnya.

Osborne tampaknya sedang gelisah dan berupaya mengintervensi menjelang pelaksanaan referendum. Pasalnya dari beberapa jajak pendapat, suara pendukung Brexit masih unggul dan menunjukkan kecenderungan naik. Untuk menyakinkan publik Inggris, Osborne mengingatkan bahwa keluar dari Uni Erooa akan membuat lubang senilai 30 miliar pound sterling dalam keuangan nasional. Untuk mengatasi itu, menurut Osborne, tarif dasar pajak penghasilan selayaknya dinaikkan dan pajak warisan akan ditingkatkan. Sebaliknya, anggaran untuk pelayanan publik termasuk pelayanan kesehatan nasional (NHS) terpaksa akan dipangkas.

Pernyataan Osborne tersebut mendapat dukungan dari Alistair Darling, mantan menteri keuangan dari Partai Buruh. Ia juga pernah bertanggung jawab mengatasi krisis ekonomi global pada 2008. "Saya bahkan lebih khawatir sekarang ketimbang di 2008," ujar Darling. Di sisi lain, pernyataan Osborne ditanggapi John Mann, seorang pembuat kebijakan buruh. Ia mengatakan pernyataan Osborne hanya taktik untuk menakut-nakuti para pendukung Brexit. "Jika kita keluar dan mengendalikan uang kita sendiri, kita akan punya uang lebih banyak untuk digunakan pada bidang prioritas seperti NHS," ujarnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya