Debat Clinton dan Trump Memanas

Yanurisa Ananta
16/6/2016 01:10
Debat Clinton dan Trump Memanas
(AP Photo/Tony Dejak)

CALON presiden (capres) dari Partai Demokrat Hillary Clinton bersiap-siap untuk bersaing menuju Gedung Putih. Dalam lima bulan lagi atau tepatnya November mendatang, ia akan berhadapan dengan Donald Trump, capres dari Partai Republik. Kendati hasil primary terakhir tidak lagi berpengaruh, Clinton yang pernah menjabat menteri luar negeri makin mengukuhkan posisinya. Pada primary Demokrat yang digelar Selasa (14/6) waktu setempat, ia meraih 79% suara delegasi.
Rival Clinton, Bernie Sanders, hanya meraih 21% delegasi.

Meski tidak menyatakan terus terang kekalahannya, senator Vermont itu mengungkapkan keinginan untuk menyatukan visi Demokrat melawan Trump yang dinilainya berbahaya. "Sekarang primary 2016 telah selesai, Demokrat siap untuk bersatu dan bersaing baik melawan Trump maupun Partai Republik yang diwakilinya," papar Ketua Komite Kongres dan Nasional Partai Demokrat, Debbie Wasserman Schultz, dalam pernyataannya. Sebelumnya, Sanders dan Clinton yang sempat bersaing panas bertatap muka di sebuah hotel. Juru bicara Sanders, Michael Briggs, mengatakan keduanya berdiskusi tentang bagaimana cara terbaik mengajak masyarakat terlibat dalam proses politik.

Mereka juga membahas nasib Demokrat pada konvensi nasional bulan depan di Philadelphia, Amerika Serikat (AS). Di lain pihak, Partai Republik telah menyelenggarakan konvensi pada Maret lalu. Sanders telah bertemu Presiden Barack Obama pekan lalu. Saat keluar Gedung Putih, Sanders mengatakan dirinya siap mendukung Clinton untuk mengalahkan Trump, miliarder realestat, pada November mendatang. Namun, perhatian publik tidak sepenuhnya tertuju pada kemenangan Clinton. Peristiwa penembakan di klub gay Pulse di Orlando, Florida, pada Minggu (12/6) lalu menyita perhatian publik.

Terkait dengan peristiwa tersebut, Clinton dan Trump saling lempar pernyataan yang menunjukkan adanya perbedaan pendekatan keduanya dalam menyikapi serangan teroris yang disebut serangan paling mematikan sejak 11 September 2001 tersebut. Dalam sebuah program yang disiarkan Fox News, Trump terkesan menuding Obama terlibat dan menyetujui insiden penembakan tersebut.

Tuduhan itu diutarakan Trump karena Obama lahir di luar AS dan erat hubungannya dengan muslim. Obama pun bereaksi dan menilai pandangan Trump sangat ekstrem dan tidak mencerminkan nilai demokratis. "Ini bukan Amerika yang kita inginkan. Hal ini tidak mencerminkan nilai demokratis. (Justru) akan membuat kita tidak aman," papar Obama.

Trump membalas
Sebagai balasan, dalam kam-panyenya di Greensboro, North Carolina, kemarin, Trump menyebut seharusnya kemarahan Obama terhadap pernyataannya ditujukan kepada pelaku penembakan, bukan terhadap dirinya. "Tingkat kemarahan itu merupakan jenis kemarahan yang seharus-nya ditujukan pada penembak dan pembunuh yang tidak seharusnya ada di sini. Jika Hillary Clinton menjadi presiden, saya tidak tahu apakah negara kita akan kembali. Saya serius," ucapnya. (AFP/CNN/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya