Puluhan Orang Tewas di Aleppo

(AFP/Ihs/I-1)
16/6/2016 00:30
Puluhan Orang Tewas di Aleppo
(AFP PHOTO / AMEER ALHALBI)

KELOMPOK Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah mengatakan 70 orang tewas dalam bentrok yang terjadi kurang dari 24 jam di Provinsi Aleppo, Suriah. Bentrokan terjadi pada Rabu (15/6) antara pasukan pendukung rezim Presiden Bashar al-Assad, kelompok pemberontak, dan kelompok Islam radikal (IS). Sebelumnya, pasukan rezim pemerintah yang didukung pasukan udara Rusia mengambil kembali Desa Zaytan dan Khalasa di barat daya Aleppo setelah terlepas beberapa jam sebelumnya.
Namun, menurut Kepala Kelompok Pemantau Hak Asasi Manusia Rami Abdel Rahman, kelompok jaringan Al Qaeda, Al-Nusra meluncurkan serangan balik pada Rabu (15/6) pagi waktu setempat untuk merebut Khalasa.

Sementara itu, di sebelah barat Aleppo, kelompok pemberontak menembak dua orang dan melukai tiga orang lainnya. "Khalasa berada di sebuah bukit tinggi yang sebagian besar menghadap selatan Provinsi Aleppo," ujar Rahman. Wilayah tersebut menjadi jalur suplai bagi pasukan pendukung rezim yang berada di sekitar selatan Aleppo. Wilayah itu juga terhubung dengan Bandara Nayrab di tenggara dan wilayah yang dikuasai pasukan rezim di sebelah barat. Aleppo awalnya merupakan wilayah tempat pembangkit tenaga listrik yang sekarang berubah menjadi medan pertempuran.

Sejak 2012, kelompok pemberontak menguasai timur kota dan menghalau pasukan militer pemerintah ke barat. Sejak serangan intens dimulai akhir Mei lalu, kelompok pemberontak dan IS yang menguasai wilayah selatan dan utara Aleppo berhadapan dengan gempuran serangan sepanjang malam. Pasukan pendukung rezim juga memutus jalur utama suplai kelompok tersebut. Surat kabar Al Watan mengatakan pesawat tempur Rusia akan melanjutkan operasi di Aleppo dengan target kelompok Al-Nusra dan sekutunya. Sebelumnya, Rusia telah meluncurkan serangan udara pada September lalu sebagai dukungan terhadap pasukan rezim pendukung Presiden Al-Asaad.

Sementara itu, pemerintah Suriah, Rabu (15/6), mengatakan bahwa pasukan Prancis dan Jerman berada di Suriah Utara, tapi tuduhan itu dibantah Jerman. Media pemerintah Suriah mengatakan pemerintah mengecam keras kehadiran pasukan Prancis dan Jerman di Ain al-Arab, yang juga dikenal dengan nama Kobani, dan Manbij. "Suriah menilai itu sebagai agresi nyata dan tidak bisa dibenarkan terhadap kedaulatan dan kemerdekaan Suriah," kata kantor berita SANA mengutip pernyataan Kementerian Luar Negeri.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya