DENGAN berseragam, Tama selalu duduk di pintu masuk dan menyambut penumpang di Stasiun Kishi, Jepang. Kucing berbulu putih, hitam, dan cokelat itu menarik wisatawan dan menjadi terkenal.
Kini, dia sudah tiada. Tama mati akibat gagal jantung, 22 Juni lalu. Usianya 16 tahun.
Untuk menghormati jasa Tama, para petugas perusahaan kereta api dan sejumlah warga menggelar upacara penghormatan terakhir, Minggu (28/6). "Tama datang sebagai penyelamat seperti sesosok dewi. Saya merasa terhormat dapat bekerja bersamanya," ucap Presiden Wakayama Electric Railway (WER), Mitsunobu Kojima.
Sebelum ada Tama, Stasiun Kishi hampir bangkrut. WER lantas mengubah stasiun-stasiun kelolaannya menjadi nirawak, tapi tetap menunjuk satu warga setempat sebagai kepala stasiun. Di Kishi, WER mengangkat Toshiko Kayama, pedagang kelontong, menjadi kepala stasiun.
Kayama sering memberi makan kucing-kucing liar di stasiun, termasuk Tama. Karena kepercayaan setempat bahwa kucing membawa keberuntungan, tercetus ide menjadikan Tama kepala stasiun pada 2007. Kehadiran Tama menyumbang 1,1 miliar yen pada perekonomian lokal.
Sebelum Tama memejamkan mata, Kojima sempat menengoknya di rumah sakit. Tama sempat terbangun dan mencoba menggapai Kojima dengan salah satu kakinya, seolah meminta pelukan sembari mengeong satu kali.
Kini, setelah Tama mati, posisi kepala stasiun akan digantikan Nitama, kucing lain yang masih berstatus pegawai magang di Stasiun Kishi. (AP/Andhika Prasetyo/I-1)