RIBUAN wisatawan asing dari sejumlah negara di Eropa sejak Sabtu (27/6) berbondong-bondong meninggalkan Tunisia setelah serangan mematikan di Imperial Marhaba Hotel, sebuah hotel wisata di wilayah el Kantaoui, Tunisia, Jumat (26/6). "Lebih dari 3.000 wisatawan asing sudah meninggalkan Sousse hari ini," ujar Saloua Kadri, pejabat urusan pariwisata setempat.
"Sebagian besar dari mereka merupakan warga negara Inggris yang berjumlah sekitar 2.200 orang dan 600 warga negara Belgia," lanjutnya. Dalam semalam, pesawat dari 13 maskapai lepas landas dari Bandara Enfidha, Sousse, Tunisia. Perusahaan jasa pariwisata asal Inggris, yaitu Thomson, First Choice, dan Jet2, mengaku telah memulangkan sekitar 1.200 turis.
Ketiga jasa perjalanan wisata tersebut memulangkan total 2.500 kliennya pada Minggu (28/6). "Kami mengucapkan simpati terdalam kepada keluarga dan rekan korban yang terkena imbas serangan ini. Tim bantuan khusus sudah tiba di Tunisia untuk membantu konsumen kami," ujar pihak Thomson. Sementara itu, maskapai penerbangan asal Belgia secara khusus mengirim enam pesawat kosong untuk mengangkut para wisatawan asal negara tersebut dari Djerba dan Enfidha pada Sabtu (27/6).
Turis tidak salah Perdana Menteri (PM) Tunisia Habib Essid mengatakan sebagian besar korban tewas ialah turis Inggris. Selain warga negara Inggris, berdasarkan laporan petugas medis terdapat warga negara Jerman, Belgia, dan Irlandia. Dalam merespons serangan yang banyak menewaskan warga negaranya tersebut, Perdana Menteri Inggris David Cameron pada Sabtu (7/6) langsung mengadakan pertemuan komite darurat pemerintah.
Cameron mengatakan pihaknya harus siap menerima kemungkinan korban tewas banyak yang berasal dari Inggris. Ia juga mengutuk mereka yang bertanggung jawab atas tindak kejahatan tersebut. "Para korban tewas merupakan turis yang tidak bersalah. Mereka hanya sedang bersantai dan menikmati waktu bersama teman-teman dan keluarga mereka. Mereka tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun."
Setelah melakukan pembicaraan dengan para pemimpin Tunisia, Prancis, Kuwait, dan Jerman, PM Cameron menulis dalam akun media sosialnya, 'Bersama, kami akan memastikan teroris tidak menang'. Adapun pelaku penembakan yang menewaskan sedikitnya 39 wisatawan dan warga Tunisia itu telah ditembak mati oleh polisi dalam baku tembak sesaat setelah tragedi berdarah tersebut terjadi.
Pihak kepolisian setempat menyebut pelaku merupakan mahasiswa lokal berusia 23 tahun yang bernama Saifeddine Rezgui. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Tunisia, Mohammed Ali Aroui, mengatakan penembak memiliki keahlian di bidang elektronik dan tengah mengejar titel master. Tidak ada sejarah keterlibatan dia dengan grup teror.
"Di masa lalu, dia bekerja di agen wisata yang memungkinkan dia tahu tentang peta hotel," ujar Aroui. Di sisi lain, ribuan warga Tunisia berunjuk rasa di jalan Sousse, kemarin malam. Mereka membawa lilin serta membawa spanduk yang bertuliskan 'Tidak untuk Terorisme.