IS Klaim Penembakan di Pantai Tunisia

AFP/Aya/I-2
28/6/2015 00:00
IS Klaim Penembakan di Pantai Tunisia
Wisatawan meletakkan karangan bunga di lokasi penembakan di pinggir pantai Hotel Riu Imperial Marhaba, Distrik Port El Kantaoui, Tunisia, kemarin.(AFP/KENZO TRIBOUILLARD)

ISLAMIC State (IS) mengaku bertanggung jawab atas penembakan brutal di pinggir pantai Hotel Riu Imperial Marhaba, Distrik Port El Kantaoui, Tunisia, Jumat (26/6) lalu.

Kelompok ekstrem itu mengatakan pelaku penembakan yang bernama Abu Yahya al-Qayrawani merupakan 'tentara Khalifat' yang menyerang musuh dari grup Jihad dan melawan 'sarang maksiat, dan kemurtadan'.

IS menyebut kebanyakan korban tewas merupakan 'warga negara yang membentuk aliansi tentara salib melawan negara kekhalifahan'. Hal itu dilansir IS melalui jejaring sosial Twitter.

Perdana Menteri Tunisia Habib Essid mengatakan korban tewas didominasi wisatawan Inggris, sedangkan korban lainnya berasal dari Jerman, Belgia, dan Prancis.

Sekretaris Keamanan Negara Tunisia Rafik Chelly mengatakan pria bersenjata pelaku penembakan ialah seorang mahasiswa Tunisia.

"Ia memasuki pantai dengan berpakaian seperti orang yang hendak berenang. Ia membawa payung pantai dengan senapan serbu di dalamnya. Kemudian di pantai ia menggunakan senjatanya," jelasnya.

Sesaat setelah penembakan massal terjadi, kawasan wisata itu ditutup oleh pasukan keamanan. Selain di Tunisia, serangan juga terjadi di Kuwait dan Prancis.

Ketiga serangan itu terjadi beberapa hari setelah juru bicara IS Abu Muhammad al-Adnani mendesak pendukungnya untuk meningkatkan serangan selama Ramadan. Serangan tersebut pun memicu kecaman internasional. Amerika Serikat (AS) menegaskan komitmen mereka untuk 'melawan terorisme'.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan mereka yang bertanggung jawab atas serangan mengerikan tersebut harus segera dibawa ke pengadilan.

Perdana Menteri Tunisia Habib Essid mengatakan sebanyak 38 korban tewas itu termasuk pelaku penembakan. Angka tersebut lebih sedikit ketimbang angka yang diberikan Kementerian Kesehatan Tunisia yang menyebut korban tewas sebanyak 39 korban.

Dari Indonesia, Kementerian Luar Negeri lewat rilisnya mengungkapkan duka cita dan simpati kepada pemerintah Tunisia serta keluarga korban.

'Pemerintah Indonesia kembali menegaskan dukungan kepada upaya bersama masyarakat internasional untuk memerangi berbagai kelompok gerakan radikal', tulis Kemenlu di laman daring resmi mereka.

Selain itu, Kemenlu juga mengingatkan WNI yang berada di luar negeri untuk waspada dan menjaga diri, menghindari lokasi yang dapat menjadi target teror, serta tidak terlibat dengan kelompok radikal.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya