PRESIDEN Prancis Francois Hollande menghubungi Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama via telepon, Rabu (24/6), untuk menanyakan aksi spionase yang dilakukan NSA (Badan Keamanan Nasional AS) terhadap tiga Presiden Prancis.
"Obama menegaskan komitmennya untuk menghentikan aksi spionase seperti itu. Ia juga mengatakan hal tersebut merupakan tindakan tak beretika yang dilakukan antarnegara yang bersekutu," jelas Kantor Kepresidenan Hollande.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS John Kerry telah angkat bicara dan telah bersumpah bahwa 'Negeri Paman Sam' tidak lagi melakukan spionase. "Izinkan saya menjelaskan hal ini. Kami tidak menjadikan Hollande sebagai target penyadapan, kami tidak akan pernah menargetkan teman seperti Hollande."
Kerry mengatakan dirinya memiliki hubungan yang erat dengan rekannya, Menlu Prancis Laurent Fabius. "Hubungan yang berlangsung antardua negara saat ini telah berjalan lebih dalam dan lebih produktif," ujar Kerry. Seret AS Di sisi lain, pendiri situs Wikileaks Julian Assange menegaskan saatnya untuk menyeret pemerintah AS ke hadapan hukum atas penyadapan yang dilakukan ke sejumlah negara di dunia. Saat berbicara di saluran televisi TF1, Rabu malam (24/6), Assange mendesak Prancis untuk bertindak lebih jauh dengan menggelar penyelidikan di level parlemen dengan melibatkan jaksa agung. Assange yang saat ini masih berlindung di kantor Kedutaan Besar Ekuador di London, Inggris, menyebut laporan terbaru penyadapan AS terhadap tiga Presiden Prancis merupakan awal dari bagian sejumlah dokumen lain.
"Ini adalah awal dari sebuah seri dokumen lain yang akan dibocorkan. Dan saya meyakini dokumen-dokumen yang paling penting akan segera muncul," ungkap Assange.
Menurut laporan, Wikileaks membocorkan lima dokumen yang meliputi percakapan dari tiga Presiden Prancis, yakni Presiden Jacques Chirac (1995-2007), Presiden Nicolas Sarkozy (2007-2012), dan Presiden Francois Hollande.
Dokumen yang paling baru tercatat 22 Mei 2012, satu hari setelah Presiden Prancis Francois Hollande dilantik. Dokumen itu menyebut Hollande sepakat menggelar rapat rahasia di Paris untuk mendiskusikan krisis zona euro, terutama terkait dengan konsekuensi yang terjadi jika Yunani terlempar dari zona euro. Disebutkan pula bahwa Hollande meyakini Kanselir Jerman Angela Merkel sudah menyerah terhadap Yunani dan tidak lagi bersedia membantu lebih jauh.
"Hal ini membuat Hollande sangat khawatir terhadap Yunani dan warganya yang mungkin akan bereaksi dengan mendukung partai ekstremis," demikian tertulis dalam dokumen rahasia itu.
Dokumen lainnya, tercatat 2008, menyebutkan bahwa Sarkozy menganggap dirinya sebagai satu-satunya orang yang dapat menyelesaikan masalah krisis ekonomi dunia. Sarkozy menyebut AS sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas permasalahan ekonomi yang terjadi saat itu. (AFP/I-3)