MAYAT-MAYAT tergeletak berserakan di luar kamar-kamar mayat di seputar Kota Karachi, Pakistan. Lalat-lalat berseliweran dan hinggap di atas kumpulan tubuh manusia yang tak bernyawa itu. Suasana di dalam kamar-kamar mayat pun tak berbeda jauh. Tumpukan mayat menggunung memenuhi setiap sudut kamar. Pemandangan yang memilukan dan menggiriskan.
Itulah yang tampak di rumah-rumah sakit di Karachi, Pakistan. Mereka merupakan korban suhu panas yang melanda sebagian wilayah Pakistan. Sebagian besar ialah orang lanjut usia dan warga miskin yang tinggal di selatan kota akibat kekurangan cairan.
Hingga kemarin, ribuan pasien sakit pun terus membanjir. Karena jumlahnya membeludak, sebagian besar tidak mendapatkan perawatan layak. Untuk menyelamatkan pasien yang dehidrasi dan serangan suhu tinggi, sebagian keluarga pasien membawa es, air, serta sejumlah tempat tidur cadangan dari luar rumah sakit.
Sejak gelombang panas yang mencapai suhu 44,8 derajat celsius menerpa wilayah negara itu, suasana Kota Karachi, yang berpenduduk sekitar 20 juta, bagai suasana perang. Setiap hari ada laporan puluhan orang meninggal akibat dehidrasi.
Pejabat di Provinsi Sindh melaporkan korban akibat terpapar suhu tinggi terus bertambah. Menurut mereka, korban meninggal lebih dari 1.000 orang.
Pemandangan memilukan tampak di Jinnah Post Graduate Medical Center, Karachi. Setiap hari para pasien berdatangan dengan menggunakan kursi. Padahal, pihak rumah sakit telah menyatakan tidak bisa melayani pasien lagi.
Demi menyelamatkan para pasien, para dokter dan perawat berjuang semampu mereka. Beruntung, sejumlah sukarelawan turut membantu, termasuk mendatangkan barang-barang yang dibutuhkan pasien.
Dengan jumlah perawat yang sangat terbatas, sejumlah keluarga pasien pun turut menemani anggota keluarga mereka yang sakit. Mereka membasuh dahi pasien dengan handuk basah. Upaya itu dilakukan dengan berharap suhu tubuh pasien tetap dingin.
"Saya merasa sangat panas, ingin muntah," rintih pasien yang berusia sekitar 60 tahun. (CNN/Drd/X-5)