KORBAN tewas akibat gelombang panas di Pakistan telah mencapai 800 orang. Petugas rumah sakit mengatakan kamar-kamar mayat sudah tidak bisa menampung korban tewas. Namun, cuaca ekstrem tersebut disebut mulai mereda. Puncak suhu di Kota Karachi, yang merupakan kota terbesar di Pakistan, diperkirakan hanya mencapai 38 derajat celsius.
Suhu itu turun ketimbang beberapa hari sebelumnya yang melebihi 40 derajat celsius. Badan Meterologi Pakistan memprediksi hujan dengan intensitas ringan akan segera turun sehingga suhu akan semakin turun. Kemarin, jalanan di seluruh penjuru Kota Karachi yang biasanya ramai menjadi sepi karena Pemerintah Provinsi Sindh mengumumkan libur untuk umum.
Kebijakan itu diambil agar orang-orang tetap tinggal di dalam rumah. Kondisi darurat masih berlaku di rumah sakit. Para perawat dan dokter masih berjuang mengatasi ribuan orang yang terkena stroke akibat panas dan dehidrasi. "Cuaca semakin baik dan kami harap orang-orang bisa mulai beradaptasi dengan cuaca," kata seorang pejabat senior di Dinas Kesehatan Provinsi Sindh.
Otoritas Penanggulangan Bencana Nasional (NDMA) dan militer Pakistan telah diperintah Perdana Menteri Nawaz Sharif untuk membantu korban gelombang panas. Sharif telah meminta langkah darurat diambil dan pendirian pusat-pusat penanggulangan stroke panas untuk mengatasi volume pasien. Badan amal terbesar Pakistan, Edhi Welfare Organization, mengatakan kamar mayat milik mereka telah menerima lebih dari 600 mayat sejak Sabtu (18/6).
Anwar Kazmi, juru bicara Edhi Welfare Organization mengatakan ia tidak pernah melihat situasi semacam ini selama 40 tahun bekerja di badan amal itu. "Saya belum pernah melihat kematian massal akibat gelombang panas. Sekitar 10 tahun lalu, hanya 30 orang tewas akibat cuaca panas, tetapi cuaca panas kali ini di luar pemahaman kita," kata Kazmi.
Problem lain yang dihadapi pemerintah Provinsi Sindh ialah lahan permakaman. Banyak keluarga korban yang kesulitan menguburkan kerabat yang tewas. Para penggali kubur juga berjuang memenuhi permintaan di tengah panas yang ekstrem. Sebagian besar korban tewas akibat gelombang panas ialah warga miskin dan orang yang bekerja di luar rumah.
Kondisi panas ektrem juga diperparah dengan padamnya listrik sehingga sistem pasokan air kota juga lumpuh. Terkait dengan pemadaman listrik, Partai Rakyat Pakistan (PPP) memprotes perusahaan listrik K-Electric dan pemerintah. Namun, protes PPP mendapatkan kritik. Mereka justru dianggap memperkeruh suasana dengan politisasi isu.