Mimpi Nuklir di Kawasan Asia Tenggara

(Dhika Winata/I-1)
02/6/2016 03:20
Mimpi Nuklir di Kawasan Asia Tenggara
(Kyodo News via AP)

TAHUN ini, dunia mengingat 30 tahun peristiwa Chernobyl, kecelakaan pembangkit nuklir terburuk di dunia yang terjadi di wilayah Uni Soviet (kini Ukraina). Kala itu, lebih dari 30 pekerja tewas seketika akibat terpapar radiasi secara akut. Menurut laporan PBB, sekitar 4.000 kasus kanker tiroid yang diakibatkan kontaminasi dari reaktor Chernobyl ditemukan. Operasi pembersihan pun sudah memakan biaya US$235 miliar. Dalam kasus Chernobyl, kebingungan pemerintah Soviet dalam merespons kejadian dan evakuasi yang lambat menjadikan bencana nuklir itu tercatat sebagai yang terburuk dalam sejarah. Lain lagi dengan insiden reaktor Fukushima Daiichi, Jepang, pada 2011 lalu. Komisi investigasi bentukan parlemen Jepang yang menyelidiki kecelakaan reaktor di Fukushima menyimpulkan bahwa insiden itu merupakan bencana buatan manusia.

Takut atas kemungkinan adanya kontaminasi radiasi, sejumlah negara melarang produk pangan dari Fukushima. Di sisi lain, negara Asia Tenggara berhasrat untuk mengoperasikan tenaga nuklir guna memenuhi kebutuhan energi. Kombinasi antara faktor produksi listrik murah, penguasaan teknologi maju, dan status sebagai sumber energi minim emisi menjadi dorongan utama. Selain itu, ada semacam persepsi kebanggaan jika sebuah negara mampu mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Pasalnya, hingga saat ini teknologi nuklir masih menjadi monopoli negara maju. Baru sedikit negara berkembang yang berani dan mampu mengembangkan energi dari bahan uranium tersebut. Asosiasi Nuklir Dunia (WNA) baru-baru ini menargetkan PLTN akan menyumbang 25% listrik global pada 2050. Dibutuhkan lebih dari 1.000 reaktor untuk mewujudkannya.

Menurut catatan WNA, saat ini ada lebih dari 400 reaktor yang beroperasi dan 66 lainnya dalam pembangunan. Dari jumlah itu, tidak satu pun reaktor nuklir komersial yang beroperasi di Asia Tenggara meski kebutuhan dan konsumsi energi diperkirakan terus meningkat. Vietnam bakal menjadi negara pertama di kawasan yang memukul gong. PLTN pertama di Asia Tenggara di Provinsi Ninh Thuan, Vietnam, direncanakan beroperasi pada 2028. Saat ini, Indonesia, Malaysia, dan Singapura juga memasukkan PLTN dalam rancangan bauran energi nasional mereka.

Namun, yang mesti diingat, kemajuan teknologi juga diikuti dengan tingginya risiko. Karena itu, insiden Chernobyl ataupun Fukushima juga berpotensi dihadapi Asia Tenggara. Dua kejadian itu bisa menjadi pelajaran bahwa kecelakaan nuklir bisa berdampak regional dan berjangka panjang. Peramalan, penanganan, dan pengelolaan risiko menjadi sangat penting. Para ahli telah menekankan pentingnya pemenuhan standardisasi keahlian, pembakuan protokol, dan kemampuan menangani situasi darurat. Pengelolaan risiko pun eloknya tidak hanya dirancang di level domestik, tetapi juga regional. Negara yang hendak 'go nuclear' perlu meyakinkan negara tetangga bahwa mereka mampu mengoperasikannya dengan aman.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya