Korban Perkosaan 31 Pria di Brasil Akhirnya Angkat Bicara

Yanurisa Ananta
31/5/2016 20:29
Korban Perkosaan 31 Pria di Brasil Akhirnya Angkat Bicara
(AFP PHOTO / VANDERLEI ALMEIDA)

SABTU (21/5) malam pekan lalu menjadi hari paling mencekam bagi gadis remaja 16 tahun asal Rio de Janeiro, Brasil. Gelap dan kumuh ialah satu–satunya hal yang diingat saat kejadian berlangsung. Suara tawa pria-pria memekakkan telinganya.

Tidak lama ia tidak sadarkan diri saat 30 orang memperkosanya. Maksud hati mendapat perlindungan dengan melapor polisi, tetapi polisi justru menyalahkan sang gadis dalam kasus pemerkosaan itu.

"Bukan hanya melukai, ini juga menyakiti jiwa saya karena orang-orang memojokkan saya dan menyalahkan saya atas apa yang tidak saya lakukan,” kata gadis yang dirahasiakan identitasnya itu dalam sebuah video, Senin (30/5) waktu setempat atau Selasa (31/5) WIB.

Beberapa hari setelah insiden terjadi, video dan sejumlah foto saat aksi pemerkosaan berlangsung tersebar dan mengejutkan Brasil. Butuh lima hari untuk korban mengumpulkan keberanian melapor polisi. Dia khawatir para pelaku melakukan pembalasan jika melapor ke pihak berwenang. Terlebih, proses penyelidikan sangat rumit. Namun, hatinya mulai tergerak untuk bercerita kisah menyedihkan itu.

"Saya dibius, saya sangat grogi. Ada banyak orang membawa senjata api, banyak pemuda tertawa dan berbicara," kisahnya.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Sejumlah pendapat di media sosial justru menyalahkan sang gadis. Mengaku tidak nyaman penyelidikan kasusnya dipimpin Alessandro Thiers, penyelidikan kasus dilimpahkan kepada kepala polisi yang mengurus kejahatan terhadap kaum minoritas, Cristina Bento, Minggu (29/5), atas permintaan pengacaranya, Eloisa Samy.

"Ia membutuhkan perlindungan dan perawatan. Pemerkosaan memang terjadi. Sekarang saya sedang berusaha menemukan hal lain dari kasus pemerkosaan ini, termasuk berapa orang yang benar-benar terlibat," imbuh Cristina.

Kerumitan kasus juga disebabkan adanya perdebatan di dalam tubuh otoritas. Fernando Veloso, Kepala Polisi Sipil, dalam sebuah jumpa pers mengatakan tidak ada bukti medis yang mendukung tuduhan pemerkosaan. Selain itu, polisi juga mengatakan seharusnya gadis itu tidak melawan jika benar dibius.

Veloso juga meragukan adanya darah dalam video. Menurutnya, tidak ada bercak darah dalam video. Ia justru mengkritik sudut pandang yang dibentuk orang-orang yang tidak terlibat langsung aksi dalam video.

Namun, Cristina membela. Menurutnya, adegan-adegan dalam video sudah cukup membuktikan pemerkosaan benar-benar terjadi. "Pemerkosaan itu sudah terbukti. Yang saya ingin buktikan adalah hal lain selain ini. Siapa yang terlibat? Apakah lima, 10, atau 30 orang?” tandasnya.

Kemarin, polisi akhirnya menangkap dua orang pelaku yang diduga turut memperkosa gadis remaja itu. Dua orang tersebut ialah pemuda yang mengambil gambar video pemerkosaan dan teman dekat sang gadis yang berusia 20 tahun.

Berikutnya, polisi menargetkan empat pria lainnya, termasuk seorang pria yang menyeringai untuk berswafoto dengan gadis yang saat kejadian tanpa pakaian. Ia juga diduga merupakan anggota kelompok pengedar narkoba yang mengendalikan jaringan narkoba di kawasan kumuh Rio.

Kongres Brasil tahun lalu telah meloloskan undang-undang baru yang memberatkan pelaku kejahatan pelecehan terhadap wanita. Namun, kelompok HAM melaporkan setidaknya 500.000 pelecehan seksual terjadi di Brasil tiap tahun. Laporan pemerkosaan kerap tak ditanggapi dengan serius, korban disalahkan.

"Saya rasa itu mengapa banyak perempuan tidak melapor. Mereka mencoba memberatkan saya seolah-olah saya lah yang salah,” tutur gadis malang itu. (AFP/AlJazeera/Aya/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya