Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KUIL Yasukuni adalah salah satu kuil pemujaan arwah terpenting di Jepang yang dibangun pada era Meiji 1869. Terletak di kawasan Chiyoda, Tokyo, Jepang, kuil ini dibangun untuk menghormati pria, perempuan, dan anak-anak yang gugur dalam Perang Boshin. Perang Boshin terjadi pada 1868 saat Kaisar Meiji berupaya merebut kembali kekuasaannya (Restorasi Meiji). Bukan hanya Perang Boshin, Kuil Yasukuni juga menjadi 'rumah' bagi 2.466.000 arwah pejuang perang lainnya, termasuk Perang Seinan, Perang Sino-Jepang (1894-1895) dan Perang Rusia-Jepang (1904-1905), insiden Manchuria, hingga Perang Dunia I dan II. "Saya yakin nama kalian yang berjuang dan mati demi negara akan hidup selamanya di kuil, di Musashino ini," kata Kaisar Meiji dalam puisinya. Dalam tradisi Jepang, arwah orang yang sudah meninggal memang amat dihargai, terlebih jika dianggap pahlawan.
Oleh karena itu, jenazah para pejuang yang gugur ditaruh di tempat-tempat suci, termasuk kuil. Bukan cuma prajurit dan tentara, rakyat sipil yang jadi korban peperangan atau mereka yang tewas karena terlibat perjuangan restorasi juga turut diabadikan di Yasukuni. Bahkan, hewan-hewan yang dipakai berperang seperti kuda, burung merpati, dan anjing militer dihormati di sini. Setiap hari pejuang-pejuang yang sudah mati itu diperlakukan sama seperti manusia, ditawarkan makan sebagai persembahan serta didoakan dengan kalimat penghormatan. Dalam budaya Jepang, itu merupakan cara terbaik memperlakukan mereka yang sudah meninggal. Dua kali dalam setahun, musim semi dan gugur, ritual besar kerap digelar sebagai persembahan untuk arwah-arwah dari Kaisar Meiji.
Anggota keluarga kekaisaran hadir dalam ritual itu. Saat ini, Kuil Yasukuni dikunjungi sekitar lima juta orang dalam setahun. Tokoh penting Jepang sering mengunjungi kuil tersebut. Bahkan, para tamu negara seolah juga 'diwajibkan' berkunjung ke Yasukuni. Ini yang membuat sejumlah negara tetangga Jepang, seperti Korea, Taiwan, ataupun Tiongkok, geram. Sebagai negara yang pernah jadi korban kekejaman militer Jepang, pemujaan itu terasa berlebihan. Jepang dianggap berusaha membersihkan fakta sejarah tindak kriminal para aparatus militer mereka. Kemarahan itu merupakan hal yang wajar. Saat Jepang menginvasi Korea pada 1592-1598, misalnya ribuan perempuan 'Negeri Ginseng' jadi budak seks prajurit Jepang.
Pembunuhan dan pemerkosaan masif juga dilakukan tentara Jepang di Nanking, Tiongkok, pada 1937. Namun, kebanyakan warga Jepang kaget mendengar respons negatif dari negara-negara tersebut terhadap pemujaan arwah 'pahlawan'. Hal ini terjadi lantaran minimnya informasi dalam penulisan sejarah modern. Buku pelajaran sejarah Tiongkok dan Korea berhaluan 'Anti-Jepang', sementara buku-buku Jepang cenderung dianggap melakukan pembelokan sejarah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved