"TIDAK ada hidup yang mewah dan nyaman tanpa kerja keras." Petuah itulah yang coba disampaikan orangtua di Tiongkok untuk memotivasi anak-anak mereka. Bahkan, orangtua di Tiongkok tidak segan-segan menunjukkan rasa dari kemewahan tersebut.
Hal itu sangat terlihat ketika lebih dari 300 keluarga mengunjungi kompleks resor dan vila di Kota Qingyuan, Provinsi Guangdong, Tiongkok.
Wisata keluarga dengan menunjukkan kemewahan semacam itu kerap dilakukan orangtua di Tiongkok menjelang Hari Anak Internasional. Orangtua di Tiongkok sengaja mempertontonkan kemewahan agar anak-anak mereka termotivasi untuk menjadi orang kaya di masa depan.
Ma Renwen, salah satu orangtua yang memiliki bisnis penjualan matras, mengatakan ia ingin mengajarkan konsep manajemen kekayaan pada anaknya. Oleh karena itu, dia membawa anak-anaknya mengunjungi kompleks vila mewah.
Sebagai anak dari seorang pengusaha, Renwen berharap anaknya bisa belajar berpikir tentang bisnis dan konsep kekayaan sedari kecil.
"Supaya ia (anak-anak) bisa meneruskan usaha keluarga dan membuatnya lebih besar," kata Renwen seperti dikutip dari South China Morning Post.
Renwen mengatakan ia dan anaknya secara rutin pergi ke pameran mobil dan pameran barang-barang mewah. Tidak hanya itu, Renwen mengajak anaknya bertemu dengan mitra bisnisnya.
Sebagai orangtua, Renwen kerap memberitahukan harga barang-barang dan fasilitas mewah yang ada di hadapan mereka. Saat anaknya sudah menikmati dan tercengang dengan segala kemewahan, Renwen mengatakan pada anaknya bahwa ia bisa menghabiskan jutaan yuan untuk membeli sebuah vila atau mobil mewah.
Salah satu vila yang dikunjungi keluarga Renwen beserta ratusan orangtua lainnya dijual dengan harga sekitar 4 juta yuan atau setara dengan Rp8,6 miliar.
Lan Xianming, pengunjung lainnya yang memiliki bisnis mebel kantor, mengatakan ia pernah membawa anak sulungnya mengunjungi properti mewah dan pameran mobil. Kini, anak sulungnya bisa mandiri mengelola pabrik.
Tidak semua orangtua di Tiongkok sepakat dengan cara mendidik anak lewat motivasi barang mewah. Penekanan pada pentingnya kekayaan dianggap bisa merusak cara pandang anak-anak.
Ketua Asosiasi Penulis Muda Tiongkok Zhou Chongxian mengatakan wisata yang berujung pada pemujaan terhadap kekayaan tersebut berbahaya bagi anak-anak. "Cara mendidik seperti itu akan mendistorsi pikiran anak-anak," tukasnya.
Sejumlah kritik juga dilayangkan di kalangan pengguna dari jejaring sosial Tiongkok, Sina Weibo. Sebuah akun mengutuk cara mendidik seperti itu sebagai tanda-tanda penyimpangan nilai-nilai dalam masyarakat. sementara akun Weibo lainnya menulis, 'Ketika Anda tumbuh, saya harap Anda tahu bahwa uang tidak bisa membawa kebahagiaan.'
Bahkan, ada yang mengatakan bahwa kekayaan bukanlah tentang uang, tetapi kekayaan ialah pemikiran, ide, keterampilan, emosi, dan cinta.
Terlepas dari pro dan kontra terhadap cara orangtua di Tiongkok dalam memotivasi dan mendidik anak mereka, Tiongkok kini telah menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.
Sedikit banyak keberhasilan Tiongkok menjadi kekuatan ekonomi dunia tidak terlepas dari peran, pendidikan, dan motivasi orangtua di 'Negeri Tirai Bambu' terhadap anak-anak mereka. (BBC/SCMP/Donny Andhika/I-2)