ASIA Pasifik kini tengah bersiap menyandang gelar kawasan terkaya di dunia, menggeser posisi Amerika Utara, yang hingga kini masih merupakan kawasan dengan kekayaan pribadi terbesar.
Dari tahun ke tahun, kemunculan jutawan dan pengusaha terus bertambah di kawasan Asia Pasifik. Hasil riset terbaru yang dilakukan firma konsultasi manajemen global Boston Consulting Group (BCG) memprediksi kawasan Asia Pasifik akan menjadi kawasan terkaya nomor wahid pada 2016.
Hasil survei terbaru itu, yang dilansir pada pekan lalu, menunjukkan jumlah kekayaan pribadi di Asia Pasifik akan naik 21% menjadi US$57 triliun pada 2016 dari posisi US$47 triliun saat ini. Pertumbuhan itu terbilang pesat jika dibandingkan dengan estimasi pertumbuhan kekayaan Amerika Utara yang hanya 9,8% dari US$51 triliun menjadi US$56 triliun pada tahun yang sama.
"Pertumbuhan Asia akan mencapai kemakmuran. Tiongkok dan India merupakan pendorong pertumbuhan di Asia Pasifik, sedangkan Indonesia dan Thailand pun menciptakan pertumbuhan. Lebih dari sepertiga kekayaan (di Asia Pasifi k) merupakan kontribusi pengusaha," ungkap kepala manajemen aset dan kekayaan BCG untuk kawasan Asia-Pasifik, Federico Burgoni.
Pencapaian kawasan itu juga didorong kinerja pasar saham. Dilaporkan, sebanyak 39% kekayaan pribadi ada di pasar saham. Persentase tersebut meningkat dari 31% pada 2009. Sementara itu, 73% kekayaan pribadi didapatkan dari pasar yang asetnya telah lama ada, bukan yang baru. Pengusaha Selain dari pasar saham, kekayaan pribadi kawasan Asia Pasifik pun bersumber dari para pengusaha. Pada 2014, sebanyak US$4,7 triliun kekayaan pribadi bersumber dari perusahaan kelas menengah. Jitendra Virwani seorang pengusaha properti asal India contohnya. Ada pula Jack Ma, pendiri perusahaan e-commerce Alibaba asal Tiongkok dengan kekayaan sebesar US$26,7 miliar setelah perusahaannya melakukan penawaran umum perdana saham dengan nilai mencapai US$25 miliar tahun lalu.
Berdasarkan riset BCG itu, tahun 2014 memang bertaburan jutawan. Jumlah jutawan bertambah menjadi 17 juta orang, naik dari 15 juta orang pada 2013. Tahun lalu, Tiongkok menelurkan 4 juta jutawan baru. Jumlah itu lebih banyak daripada Jepang dengan satu juta jutawan, sedangkan Amerika Serikat dengan 7 juta jutawan.
Ketua manajemen kekayaan BCG Daniel Kessler menyebut, meskipun kekayaan pribadi banyak ditopang oleh pasar saham, performanya akan menurun seiring dengan bermunculan pengusaha-pengusaha baru. "Dua pertiga pertumbuhan Asia Pasifik bersumber dari pengusaha. Kami memprediksi jumlah kekayaan pengusaha bertambah US$27,8 triliun dalam lima tahun. Tiongkok akan menyumbang 70% dan India 15%," papar Kessler.
Jika dilihat dari situ, Tiongkok dinyatakan sebagai pendorong utama menanjaknya jumlah kekayaan pribadi di Asia Pasifik. Pada 2019, Tiongkok diperkirakan menyetir kekayaan Asia Pasifik sebesar 70%. Bahkan pada 2021, Tiongkok diprediksi menggeser Amerika Serikat secara keseluruhan sebagai negara terkaya di dunia.
Pertama dalam sejarah Masih seperti pada 2012 dan 2013, Asia Pasifik menjadi kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat.Kekayaan pribadi global meningkat 12% atau bertambah US$17,5 triliun menjadi US$164 triliun pada 2014. Padahal, kawasan lain di dunia masih mencatatkan pertumbuhan single digit.
BCG juga memprediksi kekayaan pribadi di Eropa Barat dan Eropa Timur. Eropa Barat diperkirakan tumbuh sebesar 6,6% saja menjadi US$40 triliun, sedangkan Eropa Timur mencapai 19%.
Bukan hanya kekayaan pribadi yang menumpuk, performa perusahaan manajer investasi di kawasanpun lebih gemilang jika dibandingkan dengan manajer investasi di Swiss. Pada 2014, manajer keuangan di Hong Kong dan Singapura mengelola 16% aset global. Setiap tahunnya, jumlah aset akan tumbuh 9% mulai 2019 mendatang.
Adapun di Timur Tengah dan Amerika Selatan, dengan penambahan kekayaan yang didorong oleh kondisi politik dan ekonomi, 15% kekayaan dikelola manajer keuangan di Hong Kong dan 31% di Singapura.
Kini, pertama kalinya sepanjang sejarah modern, Asia menjadi kawasan dengan kekayaan yang lebih banyak ketimbang Eropa, bahkan Amerika Utara. Pada 2019, kekayaan di Asia Pasifik diperkirakan mencapai US$75 triliun, jauh melampaui kekayaan di Amerika Utara yang sebesar US$63 triliun.
BCG pun menyebut kompetisi antara bank Asia dan non-Asia bakal kian sengit. Hanya persoalan waktu saja bank Asia akan membeli atau mengakuisisi bank non-Asia. (The Guardian/The Economist/BBC/I-1)