SEBUAH bom meledak di Distrik Marja, Provinsi Helmand, Afghanistan selatan, Sabtu (20/6) dan menewaskan 14 orang yang termasuk satu keluarga. Peristiwa itu terjadi sesaat sebelum waktu berbuka puasa dan merupakan serangan bom pertama di Afghanistan pada bulan Ramadan, padahal para ulama telah meminta kelompok milisi untuk menghentikan serangan selama bulan suci bagi umat muslim itu.
Hingga berita ditulis, belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab atas aksi tersebut. Namun, wilayah Marja dikenal sebagai pusat kekuatan kelompok milisi Taliban. Distrik Marja juga merupakan salah satu target utama pasukan Amerika Serikat dalam operasi penumpasan Taliban pada 2010. Menurut Deputi Gubernur Helmand, Mohammad Jan Rasolyar, "Korban tewas mencapai 14 warga sipil dan lima warga lain terluka. Semuanya berasal dari satu keluarga. Mobil mereka terkena bom itu menjelang iftar (waktu berbuka puasa)."
Taliban mulai menggencarkan serangan terbaru akhir April silam dengan menargetkan pihak pemerintah dan asing. Taliban pernah berjanji menjamin keselamatan warga sipil dan dikenal menghindari melakukan serangan-serangan yang bisa menewaskan banyak warga sipil.
Mengungsi Jika serangan di Marja itu belum diklaim Taliban, lain halnya dengan wilayah utara. Kelompok milisi itu dilaporkan telah menduduki Distrik Chardarah, Provinsi Kunduz, Afghanistan utara. "Distrik Chardarah telah direbut Taliban setelah pertempuran selama berjam-jam. Dua belas prajurit Afghanistan tewas dan 17 lainnya terluka," kata kepala distrik, Mohammad Yousuf Ayubi, kemarin.
Posisi Taliban kini berjarak sekitar 3 kilometer saja dari ibu kota provinsi, Kota Kunduz. Jika ibu kota provinsi juga diduduki Taliban, itu bakal menjadi kegagalan besar bagi pemerintah Afghanistan yang berupaya menumpas milisi sejak 13 tahun silam. "Setidaknya ada 70 pasukan dikepung Taliban di Char-darah. Kami memulai operasi militer untuk merebut kembali distrik malam nanti (Minggu malam, 21/6)," kata deputi kepala pasukan Afghanistan, Jenderal Murad Ali Murad, kemarin.
Warga Distrik Chardarah pun berbondong-bondong mengungsi. "Taliban menyerang padahal ini bulan Ramadan. Mereka bukan muslim," keluh Bibi Gul, 60, seorang pengungsi. Pemerintah Afghanistan berupaya mendamaikan konflik yang telah berlangsung selama 13 tahun itu, tapi belum juga berhasil. Taliban menetapkan persyaratan yang dinilai sulit, termasuk penarik-an semua pasukan asing dari Afghanistan.
Misi perang Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Afghanistan secara resmi telah berakhir pada Desember lalu, tapi sejumlah pasukan asing masih ditempatkan di sana dengan misi pelatihan personel keamanan lokal. Tahun ini merupakan musim tempur pertama kalinya bagi pasukan militer Afghanistan untuk berperang menumpas Taliban tanpa bantuan pasukan asing.