AQAP Tunjuk Pemimpin Baru

MI/HAUFAN HASYIM SALENGKE
17/6/2015 00:00
AQAP Tunjuk Pemimpin Baru
(AFP/MOHAMMED HUWAIS)
KELOMPOK Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) di Yaman mengonfirmasi pemimpin mereka, Nasir Al-Wuhayshi, tewas akibat serangan pesawat tanpa awak (drone) Amerika Serikat (AS) di wilayah Hadhramaut. Pembunuhan Al-Wuhayshi, pemimpin Al-Qaeda tertinggi kedua secara global, menjadi pukulan terbesar bagi jaringan militan global itu sejak tewasnya Osama bin Laden di tangan pasukan AS di Pakistan, Mei 2011.

Dalam rekaman video yang dimuat secara daring pada jaringan medianya, Al-Malahem, kemarin, AQAP menyatakan Al-Wuhayshi tewas bersama dengan dua personel lainnya. Menurut pejabat keamanan Yaman, Al-Wuhayshi tewas dalam serangan di kota pelabuhan Al-Mukalla, ibu kota Hadhramaut, pada Jumat (12/6). Wilayah itu memang dalam kendali Al-Qaeda.

"Saat ini ada empat jenazah anggota Al-Qaeda. Rumah sakit tetap menutup mulut tentang identitas jasad-jasad tersebut, tapi ada informasi dari pihak dalam rumah sakit bahwa tubuh Al-Wuhayshi ada di kamar mayat," kata sumber anonim.

Setelah tewasnya Al-Wuhayshi itu, anggota senior AQAP Khaled Omar Baterfi menyatakan pihaknya telah mengangkat pemimpin baru AQAP, yakni Qassem al-Raymi. Menurut Hisham al-Omeisy, analis di Sana'a, ibu kota Yaman, pemimpin AQAP yang baru itu 'lebih berbahaya dan agresif ketimbang Al-Wuhayshi'. AQAP, kata Al-Omeisy, bakal menjadi organisasi militan yang lebih berbahaya di bawah kendali Al-Raymi.

"Raymi ialah otak di balik operasi besar seperti percobaan pembunuhan menteri pertahanan di Arab Saudi, serangan Kedutaan Besar AS di Sana'a pada 2008, dan serangan terhadap beberapa pejabat militer di Yaman," ungkapnya sembari menambahkan Al-Qaeda di Yaman atau AQAP itu tidak berhubungan dengan kelompok Islamic State.

Meski AQAP telah mengonfirmasi terbunuhnya Al-Wuhayshi, AS belum berkomentar tentang itu. Menurut laporan media Washington Post, para pejabat AS menyatakan pihaknya masih menelusuri informasi intelijen tentang serangan drone AS yang menargetkan Al-Wuhayshi.

Ramadan momen rekonsiliasi
Sementara itu, tim delegasi kelompok pemberontak Houthi dilaporkan telah tiba di Jenewa, Swiss, kemarin, untuk mengikuti pembicaraan damai hari kedua yang disponsori Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Delegasi Houthi absen pada hari pertama, yakni Senin (15/6), karena pesawat carteran PBB yang mereka tumpangi harus singgah di Djibouti selama hampir 24 jam. Tim pemberontak menuding Mesir dan Sudan sengaja tidak mengizinkan pesawat yang mereka tumpangi terbang di wilayah udara kedua negara.

Namun, delegasi Houthi, kemarin, menolak berunding dengan pemerintahan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi. "Kami tidak mau berdialog dengan pihak tanpa legitimasi. Kami ingin berunding dengan Arab Saudi, pemimpin koalisi militer yang menyerang sejak 26 Maret," kata Mohammed Zubairi, anggota delegasi Houthi.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Senin (15/6), menyerukan perdamaian. "Ramadan dimulai sebentar lagi. Bulan suci itu harusnya menjadi momen harmoni, perdamaian, dan rekonsiliasi," kata Ban sembari mendesak gencatan senjata agar diwujudkan setidaknya selama dua pekan.(AFP/CNN/Sky News/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya