10 WNI Dibebaskan Abu Sayyaf, 4 Masih Disandera

Antara
01/5/2016 19:55
10 WNI Dibebaskan Abu Sayyaf, 4 Masih Disandera
(MI/Djoko Sardjono)

KELOMPOK militan Abu Sayyaf di Filipina Selatan akhirnya membebaskan 10 warga negara Indonesia (WNI), Minggu (1/5), mengakhiri drama penyanderaan yang sudah berlangsung selama satu bulan itu.

Kelompok pemberontak tersebut sebelumnya telah memenggal kepala seorang warga Kanada setelah tenggat waktu tuntutan tebusan sudah terlewati. Menurut keterangan kepala kepolisian Pulau Jolo, 10 WNI tersebut yang merupakan awak kapal tunda Brahma 2 milik perusahaan Taiwan, dibawa ke rumah Gubernur Sulu dan kemudian dibawa ke pangkalan militer Filipina.

"Mereka terlihat kelelahan, tapi tetap bersemangat," kata Junpikar Sitin, kepala polisi setempat.

Pihak kepolisian maupun militer Filipina mengatakan bahwa belum jelas apakah ke-10 WNI tersebut dibebaskan setelah membayar tebusan yang diminta. Namun, belum diketahui nasib empat WNI lainnya yang juga disandera oleh kelompok Abu Sayyaf, yang berasal dari faksi berbeda.

Dengan dibebaskannya 10 WNI tersebut, kelompok Abu Sayyaf yang dikenal brutal dan sering melakukan penyanderaan untuk mendapatkan dana, masih menahan 13 lainnya, di antaranya empat warga Malaysia, Jepang, Belanda, Kanada, Norwegia, dan Filipina.

John Ridsdel, 68 tahun, seorang warga Kanada yang merupakan pejabat perusahaan tambang, dipenggal oleh kelompok Abu Sayyaf Senin (25/4) lalu. Ridsdel beserta tiga orang lainnya, disandera sejak tiga bulan lalu di sebuah kawasan resor di Filipina selatan. Potongan kepala Ridsdel ditemukan di dalam sebuah kantong plastik hanya beberapa jam setelah tenggat waktu yang ditentukan telah terlewati.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengutuk aksi tersebut sebagai 'pembunuhan berdarah dingin' dan mendesak negara-negara yang warga mereka jadi korban sandera agar tidak membayar tebusan. Tuntutan yang diminta untuk pembebasan Ridsdel sebesar 300 juta peso atau US$6,41 juta setara dengan Rp84,6 miliar.

Sementara itu, Presiden Filipina Benigno Aquino bertekad untuk mengerahkan seluruh tenaga untuk menghancurkan kelompok militan tersebut sebelum mengakhiri jabatan dua bulan mendatang. Namun, kuatnya jaringan kelompok tersebut memberikan tantangan berat bagi sekitar 2.500 tentara Filipina yang dikerahkan untuk menghancurkan mereka.

Besarnya bisnis kelompok Abu Sayyat membuat mereka mampu memiliki perahu berkecapatan tinggi, senjata, dan alat komunikasi canggih. Kelompok Abu Sayyaf juga tidak kesulitan untuk merekrut anggota yang berasal dari warga miskin dan pengangguran.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Filipina, dan Malaysia dijadwalkan bertemu di Jakarta pekan ini untuk membahas keamanan jalur kapal di perairan antara ketiga negara tersebut. (Ant/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya