10 WNI Sandera Bebas, Jokowi Terima Kasih kepada Seluruh Anak Bangsa

Astri Novaria
01/5/2016 19:39
10 WNI Sandera Bebas, Jokowi Terima Kasih kepada Seluruh Anak Bangsa
(AP/Office of the Sulu Governor)

PRESIDEN RI Joko Widodo (Jokowi) secara resmi menyatakan 10 warga negara Indonesia (WNI) yang merupakan anak buah kapal (ABK) Brahma 12 telah dibebaskan setelah hampir sebulan disandera oleh kelompok militan Filipina Abu Sayyaf.

"Alhamdulilah, puji syukur ke hadirat Allah akhirnya 10 ABK WNI yang disandera oleh kelompok bersenjata sejak 26 Maret 2016 lalu saat ini telah dibebaskan,' ujar Presiden Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (1/5) petang.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi, dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Lebih lanjut, Presiden menyampaikan bahwa posisi saat ini 10 ABK WNI telah diberangkatkan dari Zamboanga, Filipina, ke Indonesia. Diperkirakan akan tiba di Jakarta pada Minggu tengah malam. Presiden juga menyampaikan 10 WNI tersebut dalam keadaan baik.

"Perlu saya sampaikan banyak sekali pihak yang telah bekerja sama dalam pembebasan 10 WNI ini. Oleh karena itu, terima kasih atas seluruh anak bangsa yang telah membantu proses upaya pembebasan ini baik formal maupun informal," katanya.

Tidak lupa Presiden Jokowi juga menyampaikan terima kasihnya kepada pemerintah Filipina karena tanpa kerja sama yang baik upaya pembebasan tersebut tidak mungkin membuahkan hasil yang baik.

"Saat ini, kita masih terus bekerja keras untuk pembebasan 4 ABK lainnya," imbuhnya.

Presiden Jokowi juga menyampaikan isu yang terpenting lainnya ialah perihal keamanan area perbatasan dan wilayah sekitarnya. Oleh karena itu, sambung Jokowi, akan diadakan pertemuan pada 5 Mei 2016 mendatang antara Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

"Yang akan bertemu adalah menteri luar negeri dan panglima dari Malaysia, Filipina dan Indonesia," pungkasnya.

Sementara itu, Menlu Retno menggarisbawahi pernyataan Presiden Jokowi bahwa upaya pembebasan terhadap 10 ABK WNI itu setelah dilakukan diplomasi total yang tidak hanya terfokus pada komunikasi formal dengan diplomasi government to government (G to G), tetapi juga melibatkan komunikasi jaringan informal.

"Presiden tadi menyebutkan melibatkan semua pihak anak bangsa karena seperti yang kita sampaikan ini diplomasi total tidak hanya diplomasi G to G, tapi juga melibatkan jaringan informal yang sejak awal kita sampaikan semua bahwa komunikasi semua jaringan kita buka opsinya. Kita buka dengan satu tujuan, demi upaya keselamatan 10 WNI kita," ujar Retno.

Pada kesempatan itu, Panglima TNI menambahkan akan pentingnya keselamatan dari 10 ABK WNI. Ia mengatakan selama ini tujuan itu lah yang terus selalu dilakukan pemerintah.

"Kita ingat apa yang disampaikan Presiden yakni mengutamakan keselamatan para sandera. Ini kata kunci. Menlu juga sampaikan dengan diplomasi total formal dan informal, di dalamnya ada TNI, maka dilakukan operasi di bawah Kemenlu yakni operasi intelijen," ungkapnya.

Ia menjelaskan saat ini pihaknya tengah berupaya utuk membebaskan 4 ABK WNI lainnya. Pihaknya berharap hal serupa juga bisa dapat dilakukan untuk membebaskan 4 ABK yang masih disandera di Filipina. Adapun, 4 ABK yang masih disandera merupakan ABK kapal Henri yang menarik kapal tongkang Christi.

"Tidak lama lagi yang 4 bisa dibebaskan, kembali dengan melakukan diplomasi total," pungkasnya. (Nov/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya